Dituntut 3 Tahun, Ingin Mengadu ke Jokowi

158
INGIN LAPOR PRESIDEN: Terdakwa mantan striker PSIS, Budiyono Sutikno didampingi kuasa hukumnya, Nugroho Budiantoro sebelum sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
INGIN LAPOR PRESIDEN: Terdakwa mantan striker PSIS, Budiyono Sutikno didampingi kuasa hukumnya, Nugroho Budiantoro sebelum sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
INGIN LAPOR PRESIDEN: Terdakwa mantan striker PSIS, Budiyono Sutikno didampingi kuasa hukumnya, Nugroho Budiantoro sebelum sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

KRAPYAK – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut 3 tahun penjara terhadap mantan striker PSIS era 1990-1991, Budiyono Sutikno atas kasus dugaan penipuan dengan korban Hayati Mulyani alias Yani dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (26/3). Usai persidangan, di dalam jeruji besi terdakwa berencana meminta keadilan kepada Presiden Jokowi. Ia juga menganggap JPU tidak memiliki keadilan.

”Saya mau minta keadilan ke Pak Jokowi. Karena uang Rp 500 ribu tersebut diberikan korban pada saya untuk membeli perlengkapan. Sementara Rp 200 ribu diberikan korban sebagai jasa, semua tuntutan jaksa tidak masuk akal,” kata Budiyono sambil menangis di dalam tahanan.

Budiyono mengatakan, padahal korban tidak melaporkan atas perkara dirinya, melainkan orang lain yang melaporkan dirinya. Ia pun mempertanyakan mengapa dirinya sampai diproses ke pengadilan. ”Ini jaksa tidak punya keadilan. Sampai anak saya sekarang telantar semua. Yang laporkan saya (Dina), katanya mau menghidupi anak dan istri saya tapi kenyataannya tidak ada sampai sekarang. Di mana keadilan ini Pak Jokowi,” ucapnya sembari memohon ke Radar Semarang untuk menyampaikan ke Presiden Jokowi.

Penasihat Hukum (PH) terdakwa, Nugroho Budiantoro mengatakan, pada intinya, apa yang dilakukan kliennya tidak ada unsur penipuan. ”Uang Rp 500 ribu yang diperoleh kliennya diberikan korban (Yani) ke Budi untuk pembelian minyak dan kembang. Sementara Rp 200 ribu diberikan korban sebagai jasa. Unsur mana yang dikatakan jaksa penipuan,” katanya.
Menurut Nugroho, JPU tidak manusiawi atas penuntutan yang dilakukan terhadap kliennya.

”Menurut saya klien kami tidak terbukti bersalah melakukan penipuan dan tuntutan jaksa itu tidak adil. Unsur tersebut jelas terbukti tidak ada penipuan sama sekali,” ujar Nugroho usai sidang.

Sementara itu, JPU dari Kejari Semarang Yustiawati mengatakan dalam naskah tuntutannya, hal-hal yang memberatkan dari perbuatan terdakwa, Budiyono Sutikno adalah perbuatan terdakwa merugikan orang lain, terdakwa tidak mengakui keterangannya secara terus terang dan berbelit-belit dalam memberi keterangan. ”Adapun hal-hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan terdakwa merasa bersalah,” kata Yustiawati di hadapan majelis hakim yang diketuai, Eka Saharta Winata Laksana.

Dalam tuntutannya JPU Yustiawati menyatakan terdakwa terbukti secara sah melakukan tindakan pidana penipuan sebagaimana diatur dan diancam pasal 378 KUHP dan telah sesuai dengan dakwaannya. ”Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa, Budiyono dengan pidana penjara selama 3 tahun dikurangi sepenuhnya dengan masa tahanan yang telah dijalani oleh terdakwa,” kata JPU. Selain itu JPU menetapkan barang bukti berupa 1 lembar kain warna putih atau mori dengan panjang kurang lebih 120 cm dan lebar 35 cm dan telah dirampas untuk dimusnahkan. ”Menetapkan agar terdakwa dibebankan untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 1.000,” tandasnya. (mg21/ric/ce1)