NGURI-URI BUDAYA: Salah seorang peserta mempertunjukkan kemampuannya berbahasa Jawa dalam Lomba Pidato Bahasa Jawa di Wisma Perdamaian, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
NGURI-URI BUDAYA: Salah seorang peserta mempertunjukkan kemampuannya berbahasa Jawa dalam Lomba Pidato Bahasa Jawa di Wisma Perdamaian, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
NGURI-URI BUDAYA: Salah seorang peserta mempertunjukkan kemampuannya berbahasa Jawa dalam Lomba Pidato Bahasa Jawa di Wisma Perdamaian, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Guna membudayakan bahasa Jawa, Pemprov Jateng dan Balai Bahasa Provinsi Jateng menggelar Lomba Pidato Berbahasa Jawa antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Selain di lingkungan SKPD, lomba ini juga diikuti sekitar 55 peserta dari kategori umum yakni guru, pelajar, dan mahasiswa. Acara digelar di Wisma Perdamaian, Kamis (26/3) dengan tajuk ”Tumuju Jawa Tengah Ingkang Jujur lan Tinarbuka”.

Dalam lomba ini, para peserta diwajibkan berpidato dalam bahasa Jawa selama 7 menit. Tak jarang, para peserta menyelipkan guyonan dan tembang macapat yang mengundang tawa dari para penonton. ”Kegiatan ini, adalah tindak lanjut dari Pergub Jateng No 55 tahun 2014 tentang penggunaan bahasa Jawa yang dikeluarkan Agustus tahun lalu,” kata panita acara, Agus Sudiono.

Sebelum mengadakan lomba, panitia acara melakukan penjaringan peserta di lingkungan SKPD dan umum dengan melayangkan surat undangan. Lomba ini sendiri, memperebutkan Piagam dari Gubernur Jateng, sertifikat dan uang pembinaan dengan total hadiah jutaan rupiah. ”Tanpa diduga banyak sekali yang mendaftar, sekitar 110 peserta yang berasal dari umum dan SKPD,” ujarnya.

Selain dari Semarang, perwakilan SKPD dari Solo, Brebes, Temanggung, dan Magelang pun ikut serta dalam lomba ini. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk nguri-uri budaya Jawa Tengah berupa bahasa Jawa yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda. ”Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat bisa menggunakan bahasa Jawa yang hampir luntur. Sedangkan harapan secara luas, untuk meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam menggunakan bahasa Jawa,” timpalnya.

Terpisah, salah satu peserta dari Surakarta, Suwarno, mengaku senang bisa berpartisipasi dalam ajang tersebut. Dirinya pun menyambut baik usaha dari pemerintah untuk mempertahankan budaya yang ada. ”Di Solo, setiap Kamis SKPD wajib menggunakan bahasa Jawa. Saya berharap kegiatan ini bisa dibuat rutin di berbagai tingkatan mulai dari tingkat sekolah, mahasiswa hingga umum agar generasi muda mau memakai bahasa Jawa,” tutur PNS dari Diknas Dikpora Kota Surakarta ini. (den/ric/ce1)