GAJAH MUNGKUR – Gerakan ISIS di sejumlah daerah di negeri ini menimbulkan keresahan banyak pihak. Tak terkecuali di lingkungan pesantren. Sejumlah yayasan pesantren pun mulai membentengi para santrinya dari paham kelompok radikal tersebut.

Kepala Bidang Pendidikan Diniah dan Pondok Pesantren Kemenag Jateng, Sholikhin mengatakan, dalam usaha menangkal paham radikal ISIS di pondok pesantren (ponpes) dengan penanaman rasa nasionalisme kepada para santri. Menurutnya, paham radikal ISIS dapat memecah belah persatuan Indonesia.

”Di pesantren sudah punya filter, karena pemahamannya bermula dari tokoh Islam sejak dulu. Filter tersebut antara lain tawasud (sikap di tengah), tawanjun (mempertimbangkan), tasawur (musyawarah). Di pesantren sudah diajarkan. Pemahaman Islam fundamental sudah diajarkan sejak awal,” ujar Sholikhin saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (26/3).

Menurut Sholikhin, pada dasarnya santri dalam lingkungan ponpes telah diajarkan untuk menjaga serta mempertahankan tradisi budaya yang lama. Selain itu mengambil nilai yang baik dan sesuai dengan kultur budaya pesantren dari perkembangan zaman.

”Tidak ada di pesantren yang menjadi teroris. Paham terorisme muncul dari dunia barat karena perkembangan zaman. Maka sebetulnya orang di kalangan pesantren mempertahankan ideologi pesantren sehingga paham radikal sudah ditangkal sejak semula oleh pesantren,” lanjut Sholikhin.

Selain itu, lanjut Sholikhin, di dalam lingkungan pesantren para santri juga telah dibekali dengan 4 pilar nasionalisme. Meski begitu, memang sempat muncul kekhawatiran di pihaknya. Hal itu dikarenakan selain akademisi, target dari gerakan radikal ISIS yaitu alumnus-alumnus dari ponpes. ”Karena alumnus menjadi target, kita rapatkan barisan. Agar paham radikal tersebut tidak dapat diserap dengan mentah oleh para alumnus dari ponpes. Peran kiai dalam menangkal paham radikal ISIS masuk ke pesantren juga besar. Karena ia merupakan palang pintu dari ideologi ponpes itu sendiri,” katanya.

Paham radikal ISIS yang kini meresahkan masyarakat merupakan paham di mana pemahaman tentang Islam yang masing setengah-setengah. Radikalisme, lanjutnya, tidak pernah diajarkan dalam Islam. Selain alumnus ponpes, menurutnya, target bidikan ISIS antara lain yaitu mahasiswa. ”Mahasiswa pengetahuan agama sangat minim, itu memang mudah dimasuki ideologi Islam yang radikal. Akar persoalannya, sebenarnya masalah ideologi. Dipandang dari segi sisi politis, gerakan ISIS memang ada. Adanya sistem politis di timur tengah, serta campur tangan orang barat yang mendominasi dengan teori-teorinya,” katanya.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Pesantren Kemenag Jateng, Muhtasit mengatakan sebanyak 4.852 ponpes di Jateng kini dalam naungan Kemenag Jateng. Berdasarkan data dari Kemenag Jateng tahun 2014, jumlah santri ponpes di Jateng sebanyak 638.288 orang. Jumlah tersebut tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

”Sedangkan jumlah tenaga pengajar (ustad dan ustadah) ada 61.672 orang. Di ponpes tidak diperbolehkan fanatik (tidak boleh memiliki paham radikal artinya memandang keyakinan mereka sendiri yang paling benar). Di Islam ada perbedaan mazhab, justru perbedaan pendapat itu sebuah rahmat,” ujar Muhtasit. (ewb/zal/ce1)