Tiga Kecamatan KLB DBD

140

BALAI KOTA – Tiga kecamatan di Kota Semarang dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD). Yakni, Kecamatan Banyumanik, Tembalang dan Ngaliyan. Status ini diberikan karena tingginya jumlah penderita penyakit DBD di tiga kecamatan tersebut.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang pada Januari-Maret, jumlah kasus DBD yang terjadi hampir naik 300 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni tercatat 929 penderita.

”Pada periode yang sama tahun lalu terjadi 326 kasus, sekarang meningkat mencapai 929 kasus. Paling banyak menyerang anak-anak SD dan SMP. Sedangkan yang meninggal dunia sampai hari ini ada 6 orang,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, kepada Jawa Pos Radar Semarang di Balai Kota Semarang, Rabu (25/3).

Widoyono merinci, pada Januari 2015, Kecamatan Banyumanik tertinggi jumlah penderita DBD mencapai 59 orang, dua orang di antaranya meninggal dunia. Sedangkan Kecamatan Tembalang tercatat 55 penderita, disusul Kecamatan Ngaliyan sebanyak 35 penderita, seorang di antaranya meninggal dunia.

Sementara data mulai Januari hingga pertengahan Februari, Kecamatan Tembalang menduduki ranking tertinggi jumlah penderita DBD mencapai 81 kasus, diikuti Banyumanik 67 kasus, dan Ngaliyan 53 kasus. Lalu sampai awal Maret, total penderita DBD di Kota Semarang sudah mencapai 926 kasus.

Meningkatnya jumlah penderita DBD, terutama pada Februari, kata Widoyono, dikarenakan faktor cuaca, di mana seluruh wilayah Asia Tenggara sedang mengalami kondisi cuaca yang sama buruknya. Di Pulau Jawa, seperti di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, menurut Widoyono, saat ini juga sedang diserang wabah DBD.

”Meningkatnya kasus DBD di Kota Semarang ini perlu mendapatkan perhatian serius. Pasien harus benar-benar diperhatikan agar tidak mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS),” tuturnya.

Dijelaskan, DSS merupakan tingkatan terparah dari penderita DBD. Sindrom tersebut membuat pasien akan mengalami sebagian besar atau seluruh gejala yang terjadi pada penderita demam berdarah klasik dan demam berdarah dengue. Disertai dengan kebocoran cairan di luar pembuluh darah, pendarahan parah, serta tekanan darah menjadi rendah.

”Jika DB tidak mengalami pendarahan. Tapi kalau DBD mengalami pendarahan. Bahkan jika parah, pasien akan mengalami dengue shock syndrome,” ujarnya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, untuk menurunkan jumlah penderita DBD, pemkot sudah menggalang warga melakukan kampanye pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara besar-besaran. Metode PSN dinilai lebih efektif dibandingkan melakukan fogging (pengasapan) karena PSN memberantas nyamuk sampai ke jentik-jentiknya.

”Kami akan sosialisasikan terus PSN. Kami butuh peran serta semua masyarakat dalam menekan jumlah penderita demam berdarah ini. Sebenarnya cara yang paling mudah untuk mengendalikan penyakit demam berdarah adalah dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk kegiatan resik-resik kali dan kerja bakti massal membersihkan saluran air dari sedimentasi, serta tanaman-tanaman liar yang menghalangi aliran air,” katanya.

Kondisi curah hujan yang masih cukup tinggi hingga 2-3 bulan ke depan, lanjutnya, perlu terus diwaspadai dan disikapi dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya rob, banjir, serta wabah demam berdarah. (ewb/aro/ce1)