DIPERIKSA : Casroni ketika menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polres Pekalongan, Rabu (25/3) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA : Casroni ketika menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polres Pekalongan, Rabu (25/3) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA : Casroni ketika menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polres Pekalongan, Rabu (25/3) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

KAJEN-Pergaulan remaja di Kota Santri semakin memprihatinkan. Hanya dengan sekali kenalan, berhubungan intim pun menjadi hal yang biasa dilakukan. Seperti pengakuan Casroni, 19, tersangka kasus persetubuhan dan atau pencabulan anak di bawah umur.

Warga Dukuh Sawangan Timur, Desa Sawangan Kecamatan Doro tersebut mengagahi dua korban yang masih berusia belasan tahun. Yakni HS, 15, pelajar SMP, warga Desa Dororejo Kecamatan Doro dan VQ, 16, pelajar SMK, warga Desa Banjarsari Kecamatan Talun. “Kami suka sama suka. Mereka (korban, red) juga sering dipakai (diajak kencan, red) teman saya,” kata Casroni kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (25/3) kemarin.

Casroni yang bekerja sebagai buruh di perusahaan percetakan itu menuturkan, perkenalannya dengan dua korban melalui seorang temannya bernama Ali alias Gembel, 22, warga Dukuh Meranti Desa Lemah Abang Kecamatan Doro.

Pertemuannya dengan HS, kata Casroni, terjadi pada Sabtu (7/2) sekitar pukul 12.30. Bermula ketika Fk, 15 (saksi 1) mengajak Hs (korban) ke sebuah warnet untuk bertemu dengan Ali (saksi 2). Hs kemudian diajak ke rumah Casroni dengan dalih akan dikenalkan dengan orang tuanya. “Mereka (Hs, Fk dan Ali, red) datang ke rumah saya,” kata Casroni.

Namun ternyata, orang tua Casroni tidak berada di rumah. Saat itulah Hs dikenalkan dengan Casroni. Dari perkenalan singkat itu, Casroni yang mengaku pernah bekerja di perusahaan konveksi di Jakarta itu mengajak Hs bersetubuh. Ketika persetubuhan terjadi, dua saksi yakni Ali dan Fk, menunggu di ruang tamu. “Ngajaknya ya hanya, yuk ke kamar. Dia sempat menolak tapi akhirnya mau,” jelasnya sembari tersenyum.

Persetubuhan itupun dilakukan kembali pada Selasa (3/3) sekitar pukul 13.30 di rumah Casroni. Sehari sebelumnya, Senin (2/3), Casroni juga menggagahi VQ (korban 2). Modus perkenalannya juga sama, yakni dengan cara mengajak bertemu korban yang dikenalkan oleh Ali (saksi 2). “Kalau yang kedua (VQ, red) ketemuan dulu di Jembatan Doro, lalu saya ajak ke rumah,” ujarnya.

Dalam kasus ini, korban ada temannya, Yn, 15, warga Dukuh Kaso Tengah Desa/Kecamatan Doro. Ketika persetubuhan terjadi, Ali dan Yn, menunggu di ruang tamu. Seolah hal yang lumrah dilakukan, usai berhubungan intim mereka kembali asik ngobrol. “Saya hanya ingin senang-senang. Tapi kami suka sama suka,” kata Casroni.

Kapolres Pekalongan, AKBP Indra Krismayadi melalui Kasubbag Humas AKP Guntur Tri Harjani, menjelaskan meski berdalih suka sama suka, ketika melibatkan anak di bawah umur hal itu merupakan tindak pidana. “Kami masih menerima laporan dari dua korban. Kemungkinan masih ada korban lain,” terangnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 81 ayat 2 dan Pasal 82 ayat 1 UU RI 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun maksimal 15 tahun penjara. “Kami mengimbau kepada masyarakat untuk mengawasi pergaulan anak-anaknya, terutama pelajar. Bisa saja melalui jejaring sosial atau melalui handphone. Pergaulan remaja ini sudah mengkawatirkan,” ungkapnya. (hil/ida)