Lima Hari Sekolah Sulit Direalisasikan

144
SUDAH PADAT KEGIATAN : Sejumlah siswa SD di sela mengikuti perlombaan marching band di Semarang belum lama ini. Banyaknya kegiatan non formal dan ekstra kurikuler yang diikuti siswa membuat wacana lima hari sekolah sulit diwujudkan. (RICKY FITRIYANTO/RADAR SEMARANG)
SUDAH PADAT KEGIATAN : Sejumlah siswa SD di sela mengikuti perlombaan marching band di Semarang belum lama ini. Banyaknya kegiatan non formal dan ekstra kurikuler yang diikuti siswa membuat wacana lima hari sekolah sulit diwujudkan. (RICKY FITRIYANTO/RADAR SEMARANG)
SUDAH PADAT KEGIATAN : Sejumlah siswa SD di sela mengikuti perlombaan marching band di Semarang belum lama ini. Banyaknya kegiatan non formal dan ekstra kurikuler yang diikuti siswa membuat wacana lima hari sekolah sulit diwujudkan. (RICKY FITRIYANTO/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sejumlah anggota DPRD Jateng menilai wacana Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerapkan lima hari sekolah tidak tepat. Sebab, otomatis jam sekolah dipadatkan, dan siswa akan pulang lebih sore. Padahal, anak-anak sekolah terutama yang ada di daerah pedesaan masih memiliki kesibukan di sore hari dan banyak yang ikut sekolah nonformal.

Sekretaris Komisi A DPRD Jateng, Ali Mansyur HD mengatakan, kebijakan itu jelas tidak tepat untuk diterapkan di Jateng. Apalagi, di daerah pedesaan atau lingkungan yang memang memiliki basic agama cukup kuat. ”Di daerah yang basic agamanya kuat kan tidak hanya sekolah negeri saja. Mereka memiliki aktivitas sekolah diniyah atau keagamaan setiap sore hari,” katanya.

Ia meminta agar Gubernur Jateng tidak asal mengambil kebijakan. Wacana tersebut lanjutnya, harus dikaji dengan melibatkan semua kalangan dan tidak hanya kalangan pendidikan semata. Harus ada kajian dari sisi sosio kultur dan sosio religius. Terutama para tokoh agama di daerah tersebut. Karena mau tidak mau, antara satu daerah dengan daerah lain memiliki kultur yang tidak sama.

”Saya takutnya nanti malah banyak sekolah negeri yang tutup. Terutama di daerah yang basic agamanya kuat, dan mereka bakal memilih untuk memperdalam agama saat sekolah diniyah,” imbuhnya.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Muh Zen Adv mengatakan, wacana lima hari sekolah sebenarnya tujuannya bagus. Tapi harus dikaji ulang dan dipikirkan berbagai dampaknya. Bahkan, untuk di Jateng sepertinya keinginan gubernur tidak bakal mudah untuk direalisasikan. ”Harus ada kajian mendalam, dengan melibatkan unsur pakar pendidikan, sosial dan transportasi,” katanya.

Dewan berharap gubernur lebih bijak dalam mengambil kebijakan. Selama ini, sekolah enam hari dalam sepekan sudah cukup bagus dampaknya dan anak-anak juga tidak ada yang komplain. Apalagi setelah sekolah anak juga bisa berkumpul dengan orang tua masing-masing. ”Kalau untuk acara berkumpul dengan keluarga, itu tergantung dengan masing-masing orang tua. Sebab, kesibukan antara satu dengan lainnya juga berbeda. Jadi tidak bisa disamaratakan,” tambahnya. (fth/ric/ce1)