EFEKTIF: Even job fair yang saat ini sering digelar, cukup membantu memangkas angka pengangguran. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
EFEKTIF: Even job fair yang saat ini sering digelar, cukup membantu memangkas angka pengangguran. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
EFEKTIF: Even job fair yang saat ini sering digelar, cukup membantu memangkas angka pengangguran. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Jumlah perusahaan di Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang sebagai kota terbesar di provinsi ini, masih tidak seimbang dengan semakin naiknya angka pengangguran yang terus tumbuh setiap tahun. Dari data Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jateng, setiap tahun muncul sekitar 1.400 lulusan SMK di Jawa Tengah yang butuh pekerjaan. Belum lagi ditambah lulusan SMA dan perguruan tinggi.

“Jumlah pengangguran di Jateng, khususnya Kota Semarang, selalu membeludak setiap tahun. Jumlah perusahaan tidak cukup menampung lulusan baru, baik dari SMA, perguruan tinggi atau bahkan lulusan SMK yang sebenarnya sudah dirancang untuk siap kerja,” kata Kepala Disnakertransduk Jateng Wika Bintang, ketika dihubungi Radar Semarang, kemarin.

Fenomena ini menandakan penuntasan pengangguran di Jateng atau Kota Semarang sulit terlaksana. Dikatakan, angka pengangguran bisa terpangkas berkat bantuan gelaran-gelaran seperti job carrier expo, job fair dan lain sebagainya. “Pertemuan antara dua pihak, yakni pencari kerja dan perusahaan yang butuh karyawan ini terbukti efektif. Para job hunter jadi lebih fokus, tidak perlu door to door menyebar lamaran. Bagi perusahaan sendiri juga diuntungkan karena tidak mengeluargan budget untuk memasang iklan lowongan,” imbuhnya.

Wika Bintang menegaskan, pihaknya tengah mencoba berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan, agar mau menampung jebolan SMP yang putus sekolah dan tidak bisa menaljutkan ke SMA. Jumlah ini sangat banyak, di Jateng 70 persen pengangguran adalah alumnus SMP. Pihaknya berharap agar lulusan SMP bisa bekerja di perusahaan untuk pekerjaan ringan seperti operator. Tapi diakui memang sulit, oleh karena industri mencari lulusan SMA untuk mengisi formasi tersebut.

Dijelaskan, untuk mengurangi angka pengangguran lulusan SMP, mereka didorong untuk menerjuni entrepreneur, bisnis kecil-kecilan. Disnakertransduk Jateng menggandeng beberapa pihak untuk mencarikan solusi mengatasi permasalahan pengangguran lulusan SMP tersebut. (amh/smu)