Taruh Cita-Cita 5 Cm di Depan Mata

232
INSPIRATIF: Mia Widyastuty menunjukkan beberapa jenis sepatu produksinya yang telah dijual hingga ke luar negeri. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
INSPIRATIF: Mia Widyastuty menunjukkan beberapa jenis sepatu produksinya yang telah dijual hingga ke luar negeri. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
INSPIRATIF: Mia Widyastuty menunjukkan beberapa jenis sepatu produksinya yang telah dijual hingga ke luar negeri. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

BUNYI mesin jahit dan mesin pengamplas terdengar dari ruangan yang tidak begitu luas di rumah Mia Widyastuty, Jalan Sunan Kalijaga 2, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang. Lima karyawan tampak sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang membuat pola, ada yang mengelem dan ada yang sibuk memaku sepatu-sepatu agar lebih kuat.

Sementara Mia mondar-mandir mengawasi lima karyawannya. Sesekali ia mengingatkan karyawannya bila ada pekerjaan yang kurang pas. Begitulah kecintaan perempuan berusia 33 tahun ini terhadap sepatu. Ia tak ingin ada cacat pada produk-produk sepatunya.

Mia bercerita tentang perjalanan hidupnya yang pernah kosong setelah suaminya meninggal. Tapi entah mengapa, pesan suami sebelum pergi untuk selamanya itu menjadi cambuk bagi Mia. Dia bertekad untuk bisa membiayai anak semata wayangnya, buah hati dari almarhum Nicky Zulmansyah. Begitu tegar Mia membagi pengalamannya itu.

“Bisnis ini berawal dari kecintaan saya mengkoleksi sepatu-sepatu high heels,” jelasnya.

Semasa hidupnya, Nicky sering mengajak Mia pergi ke pengrajin sepatu di Jakarta. Mia diajak mempelajari bagaimana sepatu-sepatu itu dibuat. Tujuannya, agar ia terinspirasi dan memiliki greget untuk membuka usaha yang sama.

“Suami saya tahu banget saya suka sepatu high heels, dia mengajak saya ke sebuah home industry. Suami saya waktu itu pesan kepada saya. Dia mengatakan kepada saya, taruh cita-cita dan impianmu 5 sentimeter di depan mata kamu, supaya kamu mau mengerjarnya terus,” ucapnya menirukan suaminya waktu itu.

Perempuan yang jago menari ini mengatakan, bisnis sepatu diawalinya pada 2011 lalu. Saat itu, dia belum punya karyawan. “Saya nggak begitu bisa gambar, tapi kalau jelasin ke tukang sepatu mereka paham. Saya datangin tukang sepatu dari pola sampai finishing. Lalu produk itu saya jual secara online,” tuturnya.

Kendati belum punya toko sendiri untuk menampilkan produknya, perempuan kelahiran 2 Mei 1982 itu mengaku kerap mengikuti pameran-pameran skala kecil. Alhasil, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran skala besar ketika digandeng oleh Kementerian Perindustrian.

“Dari pameran itu, saya sempat mendapatkan tawaran untuk interview di televisi nasional. Tapi batal, karena saya belum punya tempat sendiri,” akunya.

Tahun 2014, menjadi angin segar bagi dirinya. Setelah survei ke beberapa tempat kulakan bahan, dia juga menemukan tukang-tukang sepatu dari Bandung yang cocok dengan ide-idenya. Mereka diboyong Mia ke Magelang untuk merintis usaha di kampung halaman. “Masing-masing tugasnya beda, khusus untuk sol sepatunya ada dua (orang),” ucapnya.

Produk pertamanya adalah high heels jarit gendong. Keunikan sepatu itu, membuat ia melancong ke negeri tetangga untuk mengikuti perhelatan Hongkong Fashion Week.

“Saat itu, saya ingin membuat sepatu modern tapi dari batik,” tambah perempuan yang juga menciptakan dua gaya sepatu lainnya, yakni sepatu cinderela koil dan yang terbaru gaya anyaman.

Saat ini, Mia mengaku bisa memproduksi 400 pasang sepatu per bulan. Bahkan saat ramai pesanan, bisa lebih dari itu. Hanya saja, hingga saat ini Mia masih fokus mempromosikan sepatu-sepatunya secara online.

“Kalau jual online itu pemasarannya bisa ke mana saja dan lebih gampang. Pembeli sepatu saya ada yang sampai Malaysia, Australia juga ada dan beberapa negara lain. Kalau di Indonesia, didominasi sama orang Jakarta,” jelasnya.

Meski produk lokal, kualitas dan desainnya bisa menembus pasaran. Saat ini, sedang mengerjakan pesanan sepatu untuk toko fashion online yang berbasis di Jakarta, Berrybenka. Baru-baru ini, dia juga menandatangani kontrak dengan online shop besar lainnya.

“Saya tetap menggunakan merk saya, Mia Widy Shoes,” tegasnya.

Meski bisa dikatakan sukses, Mia yang pernah meminjam uang bank untuk modal usahanya itu pernah mengalami keterpurukan setelah mengalami penurunan permintaan. Tepatnya usai Lebaran tahun 2014. “Padahal saya stok sepatu-sepatu dengan jumlah yang banyak. Akhirnya sepatu-sepatu saya jual dengan diskon yang besar, yang penting modalnya balik dululah,” terangnya.

Setelah 4 bulan berlalu, bisnisnya kembali pulih. Dia bersyukur, mampu menggaji karayawannya di atas upah minimum kota (UMK). “Saya beruntung memiliki karyawan seperti mereka, kadang sudah waktunya berhenti kerja tapi malah tetap pada produksi, saking baiknya ke saya itu,” ungkapnya.

Saat ini Mia memimpikan memiliki outlet sepatu dengan konsep yang unik. Ke depan jika itu tercapai, dia akan mencoba memproduksi sepatu khusus pria. (put/ton)