Dulu Jualan Keliling, Kini Punya 4 Warung

376
PEKERJA KERAS: Suratno dan warung bakso Pak Ratno di Sukun, Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEKERJA KERAS: Suratno dan warung bakso Pak Ratno di Sukun, Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEKERJA KERAS: Suratno dan warung bakso Pak Ratno di Sukun, Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

boksWEB

Awalnya menjadi penjual bakso keliling, kini Suratno sukses memiliki 4 warung bakso terkenal di Kota Semarang. Ia juga dibantu puluhan karyawan dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO, Srondol Kulon

TIDAK mau bekerja pada orang lain, dan ingin bekerja mandiri. Hal itulah yang menjadikan Suratno bisa seperti sekarang ini. Bapak dua anak yang akrab disapa Pak Ratno ini sekarang telah memiliki 4 warung bakso, dengan sedikitnya 16 karyawan.

Ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (24/3), Ratno bercerita, ia memulai usahanya dengan menjadi pedagang bakso keliling. Ia mengaku belajar membuat bakso dari temannya di Solo pada 1975. Tampaknya keberuntungan belum berpihak pada Ratno. Saat berjualan bakso di Solo, ia selalu tombok. Dagangannya kerap tidak habis.

Ratno pun memutuskan hijrah ke Jakarta untuk merintis usaha yang sama. Harapannya, ia mampu mendulang kesuksesan. Namun rupanya nasib mujur masih belum berpihak pada Ratno. Di Ibu Kota, ia belum mampu menjanjikan kesuksesan dari usahanya tersebut. Ratno tak menyerah. Ia mencoba mengadu nasibnya ke Kota Semarang. Di sini, usaha Ratno sedikit demi sedikit mulai terlihat geliatnya. Mulai dari jualan bakso keliling dari kampung ke kampung, Ratno akhirnya mampu membuka warung kaki lima di Kota Atlas.

”Saya pindah ke Semarang sekitar tahun 1980-an. Saya jualan bakso keliling kampung. Namun sedikit demi sedikit saya menabung akhirnya mampu membuka warung kaki lima,” kenang pria bernama lengkap Suratno ini.

Kegagalan demi kegagalan tampaknya tidak membuat Ratno putus asa. Ia terus berjuang hingga sebuah warung mampu ia kontrak. Hanya untuk satu alasan, ia tak mau bekerja pada orang lain. Sebuah warung yang dikontrak kali pertama adalah warung bakso di Sukun atau Jalan Perintis Kemerdekaan, Banyumanik, Semarang yang kini sudah dibangun megah.

Terus belajar merupakan kunci utama kesuksesan yang diraih Ratno saat ini. Sampai sekarang pun Ratno masih belajar dengan mencoba dan mempelajari setiap menu bakso yang ada untuk memperbaiki kualitas bakso di warungnya. Upaya memperbaiki kualitas ini menjadikan usaha Ratno sedikit demi sedikit mulai berkembang. Pria asal Sukoharjo, Solo ini menganalogikan peningkatan usahanya seperti siswa sekolah. Terus belajar, maka sedikit demi sedikit akan mengalami peningkatan.

”Ya sedikit demi sedikit, jangan pernah berhenti belajar. Terus pelajari hal-hal baru untuk meningkatkan kualitas usaha kita,” tutur Ratno.

Dia mengatakan, pengusaha tidak boleh takut dalam berusaha. Menurutnya, untung dan rugi merupakan hal yang wajar. Namun semuanya tentu harus didukung oleh kerja keras tanpa boleh malas-malasan, terus berusaha, serta belajar untuk selalu memberikan yang terbaik buat pelanggan.

”Ya jangan nyerah, yang namanya rugi itu sudah biasa dalam dagang. Itu sudah menjadi risiko kan Mas. Kalau kemudian nyerah, bagaimana bisa maju?” ungkap Ratno.

Selalu memberikan yang terbaik menjadikan warung bakso Ratno ramai dikunjungi pelanggan. Bahkan, sampai sekarang usaha yang sebagian telah diambil alih anaknya ini masih sering dikunjungi pelanggan lama Ratno ketika ia masih berjualan keliling.

”Masih ada pelanggan yang sejak dulu sampai sekarang datang untuk menikmati bakso Pak Ratno, pelanggan sejak saya berjualan keliling masih ada yang mampir ke warung,” terang pria yang dua anaknya sudah menyandang gelar sarjana tersebut.

Dari warung baksonya itu, kini Ratno mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia mempekerjakan masing-masing 4 orang untuk setiap warung bakso miliknya. Hingga saat ini, setiap warung pria lulusan SD ini meraup omzet sekurangnya Rp 6 juta per hari. Di usia senjanya, Ratno berharap kedua anaknya bisa meneruskan usahanya tersebut. ”Saya berharap bisa semakin besar dan banyak cabangnya, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi,” harapnya. (*/aro/ce1)