Waspadai Penyebaran Penyakit TB

137

BALAI KOTA – Tren penderita penyakit Tuberkulosis (TB) di Kota Semarang terus meningkat. Dua tahun terakhir, ditemukan suspect TB mencapai 14.000 kasus. Hal itu membuat keprihatinan tersendiri. Oleh karena itu diperlukan langkah penanganan untuk menekan kasus tersebut, salah satunya dengan membuat peraturan daerah (perda).

Data tersebut terungkap dalam rapat antara Dinas Kesehatan bersama Komisi D DPRD Kota Semarang kemarin. Di mana tahun 2013 ditemukan kasus TB menular sebanyak 1.120. Sedangkan pada tahun 2014 ditemukan 1.175 kasus TB menular dan 2.000 kasus TB tidak menular. Secara keseluruhan di Semarang ditemukan suspect TB 14.000 kasus. ”Penderita kebanyakan orang dewasa, tapi bisa terjadi kepada anak-anak karena penyakit ini menular. Biasanya terjadi karena lingkungan yang tidak sehat,” kata Ketua Sub Recipient (SSR) TB Aisyiyah Kota Semarang, Purwanti Susantini.

Aisyiyah merupakan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dilibatkan Pemkot Semarang untuk menanggulangi TB. Dari 10 kecamatan yang menjadi binaan Aisyiyah, Semarang Utara menjadi kecamatan paling banyak suspect TB di tahun 2014 yaitu 149. Disusul Semarang Timur dengan 128 suspect TB dan Candisari dengan 86 suspect TB.

Menurut Purwanti Susantini, faktor lingkungan yang tidak sehat menjadi penyebab utama munculnya penyakit TB. Seperti saluran di sekitar tempat tinggal yang tidak lancar, banyaknya sarang nyamuk, adanya limbah pabrik dan rumah tangga serta sampah. ”Termasuk, rumah kumuh. Karenanya penanganan perlu lintas sektor seperti dinas yang menangani pemugaran rumah tidak layak huni,” ujarnya.

Ciri-ciri orang yang terkena atau suspect penyakit TB antara lain, menderita batuk selama setengah bulan tidak sembuh-sembuh. Kemudian malam hari berkeringat meskipun tidak melakukan aktivitas dan berat badan semakin menurun. ”Jika ada gejala seperti itu, maka patut dicurigai TB,” katanya.

Dampak terkena penyakit menular ini, bahkan juga bisa mematikan, adalah semangat dan produktivitas kerjanya menurun. Sehingga hasil kerja dan pendapatan pun akan menjadi menurun. ”Kami hanya melakukan pendeteksian, kalau positif ada kasus diserahkan ke puskesmas untuk ditangani pemkot,” katanya.

Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Laser Narindro mengatakan, mendorong Pemkot Semarang untuk lebih serius memperhatikan penyakit TB yang trennya terus meningkat. Bahkan dirinya mendorong supaya dibuat sebuah regulasi dalam bentuk perda (peraturan daerah) khusus penanggulangan penyakit TB. ”Kalau perda penanggulangan HIV/AIDS dan DBD saja ada, kenapa penyakit TB tidak. Perda akan menjadi payung hukum yang mengikat bagi siapa saja yang terkait untuk bersama-sama menanggulangi TB. Akan ada sanksinya. Tapi perlu kajian terlebih dahulu yang harus dilakukan,” tandasnya. (zal/ce1)