Usung Kekuatan Baru, Optimistis Dua Medali Emas

122
TEKAD KUAT: Dua atlet squash pelatda Jateng, saat berlatih di GOR squash, Jatidiri, sore kemarin. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
TEKAD KUAT: Dua atlet squash pelatda Jateng, saat berlatih di GOR squash, Jatidiri, sore kemarin. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
TEKAD KUAT: Dua atlet squash pelatda Jateng, saat berlatih di GOR squash, Jatidiri, sore kemarin. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kapok tersungkur di PON XVIII/2012 di Riau lalu, kini Persatuan Squash Indonesia (PSI) Jateng menyusun formasi baru. Dari 10 atlet yang diturunkan dalam Pra Pon di Bandung Agustus mendatang, hanya ada dua pemain lawas yang masih dimainkan yakni Reza Permadi dan Setiyawati Mutiara.

Ketua Umum PSI Jateng Supriyono mengaku akan tampil dengan kekuatan penuh demi mendapat kuota sebanyak-banyaknya di PON XIX/2016 di Jabar mendatang. Dari 10 atlet yang terdiri dari 5 putra dan 5 putri ini, Supriyono optimistis mampu membenahi catatan prestasi di PON sebelumnya di mana Jateng hanya mendapatkan satu medali perunggu.

“Sekarang 80 persen merupakan atlet baru. Mereka jebolan dari kelas junior yang belakangan ini telah mengoleksi banyak prestasi,” ungkapnya, ketika ditemui Radar Semarang di tempat latihan di GOR Jatidiri, kemarin.

Satria Bagus Laksana digadang gadang mampu mencuri medali emas. Atlet yang baru menginjak usia 15 tahun ini sudah langganan juara di ajang nasional ketika masih di kelas junior. Sedangkan di nomor putri, ada Aqila PW yang jadi debutan PSI Jateng. Meski baru naik kelas senior, Supriyono yakin mampu mengimbangi lawan-lawannya di PON 2016 mendatang.

Dari formasi baru ini, pihaknya yakin PSI Jateng akan menjadi kuda hitam. Terlebih selama ini kekuatan Jateng masih di bawah Jabar, Jatim, DKI Jakarta dan Kalimantan Timur. “Semoga saja jadi tim kuda hitam. Apalagi di beberapa pertandingan kemarin, kekuatan kami sudah sejajar dengan Kalimantan Timur. Jadi dengan sedikit polesan, harapan kami bisa merangkak naik lagi,” ucapnya.

Agar persiapan makin matang, SPI Jateng berencana berpartisipasi dalam Kijono Cup Open Squash Championship Jakarta, 15-17 Mei mendatang. Dari kejuaraan internasional itu, Supriyono berharap banyak evaluasi agar lebih efektif memoles atlet. “Meski hanya sebagai ajang evaluasi, kami juga berharap bisa mendapatkan paling tidak dua medali emas dari Satria dan Aqila,” imbuhnya.

Supriyono mengaku memang lebih memilih latih tanding dengan atlet-atlet internasional. Dengan gap kekuatan yang cukup jauh dan perbedaan kebiasaan pola permainan, atlet akan lebih cepat berkembang ketimbang latih tanding dengan tim-tim nasional. “Sebenarnya kami masih butuh try out atau try in satu kali lagi. Tapi harus dengan tim asing. Ini sedang mengajukan support ke KONI Jateng. Penginnya sih mereka yang diundang ke sini. Selain memangkas dana, anak-anak akan lebih fokus karena tidak terselimur dengan jalan-jalan ke luar negeri,” papar Supriyono. (amh/smu)

Squash Makin Populer, Atlet Muda Capai Ratusan

MUMPUNG masih ada waktu mempersiapkan tim menuju Pra PON, Ketum PSI Jateng Supriyono akan menggelar seleksi daerah di kelas usia di bawah 23 tahun (U-23) dan U-13, hari ini dan besok (21-22/3). Event ini sebagai ajang penjaringan atlet, karena atlet pelatda Pra PON memberlakukan sisten promosi degradasi. Siapa yang terlihat moncer bisa masuk pelatda, sementara atlet pelatda yang kualitasnya menurun, akan didepak.

Sedangkan untuk atlet U-13, akan disiapkan menuju PON Ramaja II 2017 mendatang. “Mencari atlet berkualitas di kelas U-23 memang tak mudah, karena sudah sulit untuk didandani. Karena itu, kami ingin mencari yang sudah jadi saja. Kalau yang U-13 untuk pengkaderan,” paparnya.

Dari 400-an atlet yang mendaftar kelas U-23, telah dijaring menjadi 30 peserta. Angka itu dikerucutkan menjadi 16 putra dan 8 putri. Mereka harus totalitas di selekda nanti agar bisa mendapat kursi di pelatda Pra PON PSI Jateng.

Sementara itu, Kepala Pelatih Imam Prayitno mengungkapkan, sudah hampir sebulan ini anak didiknya menjalani program latihan khusus untuk mengasah kecepatan fisik dan power. “Terutama putri. Hampir semuanya masih kurang soal speed,” ucapnya.

Disinggung mengenai jebloknya perolehan medali di PON lalu, Imam berkilah mengenai fasilitas serta sarana dan prasarana tempat latihan yang kurang memadai. Dengan hanya dua lapangan, waktu yang termakan untuk latiha kurang efisien. Mereka harus mengantre lama untuk mendapatkan giliran latih tanding. “Tapi dengan pemain-pemain baru ini, kami optimistis bisa mendapatkan emas di PON mendatang,” harapnya. (amh/smu)