SAR Ajak Doa Tabur Bunga

193

TANJUNG EMAS – Tim Badan Search and Rescue (SAR) Nasional berencana mengajak keluarga korban Pesawat Air Asia QZ8501 ke Pangkalan Bun untuk melakukan doa dan tabur bunga.

Saat ini, proses pencarian yang dilakukan tim Basarnas telah resmi dihentikan sejak tanggal 3 Maret lalu. Total penumpang yang ditemukan sebanyak 106 penumpang. Sedangkan sebanyak 56 penumpang lainnya tidak diketahui keberadaannya.

”Operasi pencarian resmi kami tutup berdasarkan kesepakatan dengan pihak keluarga korban,” kata Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo, usai peresmian KN SAR Sadewa 231, ditemui Jawa Pos Radar Semarang di halaman Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jumat (20/3).

Untuk menelusuri korban pesawat AirAsia tersebut, pihaknya juga masih menambah waktu operasi sendiri selama satu minggu. ”Dalam seminggu itu, sempat berhenti dua hati karena cuaca buruk. Lalu sudah kami ganti dua hari di hari lain. Saat ini sudah tuntas,” katanya.
Dikatakan Soelistyo, Basarnas telah berusaha semaksimal mungkin dalam mencari korban. Namun sejauh ini masih ada 56 orang korban yang belum ditemukan. ”Ada 56 orang yang belum ditemukan,”

Pihaknya berencana mengajak pihak seluruh keluarga korban untuk melalukan prosesi penghormatan dengan berdoa dan tabur bunga di Pangkalan Bun, Minggu (22/3) mendatang. Hal itu untuk mendoakan agar korban AirAsia QZ8501, baik yang sudah ditemukan maupun yang belum ditemukan diberikan tempat yang indah oleh Tuhan. ”Kami akan ajak semua keluarga korban untuk ke Pangkalan Bun, untuk berdoa dan tabur bunga,” katanya.

Pencarian sejauh ini pihaknya mengaku berjalan dengan lancar. Hambatan-hambatan bisa dilalui secara baik. ”Penemuan terakhir ada tiga kerangka itu, sudah dibawa ke Surabaya dan tes DNA juga,” imbuhnya.

Sejauh ini, lanjut Soelistyo, Basarnas sudah memiliki peralatan cukup banyak. Peralatan-peralatan untuk keperluan rescue tersebut telah dilengkapi perangkat teknologi. ”Hanya saja, jumlah dan spek-nya yang perlu kita ditambah. Kapal SAR Sadewa misalnya, ini sekelas dengan milik Singapore,” ujarnya.

Dia mengaku tidak ingin melulu mendapatkan bantuan terus-menerus. Ke depan, pihaknya berharap bisa mandiri tanpa harus ”mengemis” bantuan. ”Kami bisa mandiri. Kami tidak ingin dibantu terus-menerus. Bahkan kami berharap bisa membantu negara lain. Membantu negara sahabat-sahabat kita,” katanya. (amu/zal/ce1)