Regenerasi Demokrat Jateng Mandek

128

SEMARANG – Terus gagalnya Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat (PD) Jawa Tengah menunjukkan buruknya manajemen parpol dan menonjolnya kepentingan kelompok. Kepengurusan Sukawi Sutarip dan keluarganya dianggap mendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena ingin terus membangun wibawa politik.

”Memang lebih aman bagi Sukawi ikut SBY karena ingin membangun wibawa politik untuk Pilgub, Pileg, dan Pilkada serentak tahun ini,” ujar pengamat politik Undip Muhammad Yulianto. Terlebih lanjutnya, dalam Pileg dan Pilpres, dan Pilgub lalu, Demokrat mengalami nasib buruk karena kalah. Maka tidak ada pilihan lain bagi DPD PD Jateng selain mendukung SBY menjadi Ketua Umum kembali dalam Kongres.

Yulianto menambahkan belum digelarnya Musda PD Jateng menjelang Kongres menunjukkan buruknya manajemen parpol berlambang bintang mercy itu. Dia melihat dalam Demokrat Jateng, kepentingan kelompok lebih diutamakan daripada model kepemimpinan terbuka. ”Ini yang menyebabkan regenerasi di Demokrat Jateng mandek. Karena kepentingan kelompok lebih dominan,” paparnya.

Menurutnya, kepengurusan Sukawi Sutarip seharusnya sudah berganti sejak dua tahun lalu. ”Harusnya Musda kan digelar sebelum Pilgub Jateng 2013 lalu. Tapi toh nyatanya sampai sekarang kepengurusan lama masih dipertahankan dan diperpanjang jabatannya,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kongres PD yang rencananya akan digelar di Bali pada bulan Mei nanti seolah menjadi ironi bagi Demokrat Jateng. Sebab hingga saat ini PD Jateng belum juga menggelar Musyawarah Daerah (Musda) untuk memilih kepengurusan baru.

Sukawi mengakui ada perpanjangan masa jabatan kepengurusan DPD Jateng karena belum menggelar Musda. Karenanya suara Jateng tetap dianggap sah dalam Kongres. ”Jateng sudah beberapa kali mengajukan Musda. Namun karena dulu mendekati waktu Pileg dan Pilpres, maka diputuskan Musda setelah Kongres,” paparnya.

Dalam Kongres PD nanti, ada sekitar 500 suara yang akan diperebutkan. Para pemilik suara terdiri atas 450 DPC, 32 DPD yang masing-masing memiliki 2 suara untuk Ketua dan Sekretaris, serta suara dari sejumlah organisasi sayap yang disahkan DPP. Calon Ketua Umum PD bisa terpilih secara aklamasi jika mampu meraih 50 persen plus 1 suara. (ric/ce1)