Pengembang Harus Bertanggung Jawab

213
(RADAR SEMARANG)
(RADAR SEMARANG)
(RADAR SEMARANG)

METESEH – Pengembang harus bertanggung jawab atas musibah banjir yang melanda Perum Dinar Indah, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang. Sementara itu, sebagai langkah penanganan darurat, Pemkot Semarang segera melakukan perbaikan tanggul yang jebol dan membuat dapur umum untuk warga.

Selain melakukan perbaikan tanggul yang jebol, harus ada perbaikan sistem drainase di perumahan tersebut. Serta penguatan tanggul di sekitar perumahan warga. ”Pengembang juga harus bertanggung jawab, minimal menyiapkan fasilitas sesuai janji kepada konsumen. Seperti jalan, listrik, fasum (fasilitas umum), jaminan tidak banjir, dan lain sebagainya. Semua itu harus dipenuhi pengembang,” tegas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, usai meninjau lokasi banjir, kemarin.

Sementara itu, Ketua RW 26 Imam Abadi, wilayah tersebut sebenarnya tidak layak untuk dijadikan permukiman. Sebab lokasinya berada di bantaran sungai. Terlebih melihat kondisi sungai Babon sebagai drainase utama menerima aliran air dari daerah atas. Sehingga sangat dimungkinkan rawan terjadinya musibah banjir.

”Pengembang berjanji menyudet sungai ini sehingga alirannya bisa optimal, tidak terhambat oleh tanggul ini. Tapi nyatanya sampai sekarang belum terealisasi,” keluhnya.

Kasi Pembangunan Kelurahan Meteseh, Solikin mendesak kepada pengembang untuk ikut bertanggung jawab dalam bencana banjir ini. Pihaknya juga berharap, supaya pihak pengembang segera melakukan penyudetan aliran sungai Kali Babon.

”Ini tanggung jawab pengembang. Sebab, pada tahun 2014 berjanji sungai ini dialihkan ke arah timur. Kami juga sudah usul jangan ada saluran air dari permukiman atas menuju di RT ini. Harusnya pengembang juga memotong saluran itu. Sebab, lokasi ini paling rendah,” terangnya.

Pihaknya menambahkan, untuk mengantisipasi terjadinya banjir susulan, pihaknya telah melakukan pemasangan karung berisi tanah sebanyak 500 karung yang dipasang pada tanggul yang jebol. ”Ada sekitar 500 karung dari PSDA Kota Semarang, juga disediakan backhoe untuk mengeruk tanah yang dimasukkan ke dalam karung. Sementara, bantuan lain seperti makanan, pakaian pantas pakai, selimut juga sudah tersalurkan pada warga yang mengungsi di musala dan balai desa,” katanya.

Lurah Meteseh, Agus Suryanto mengatakan luapan sungai Babon yang menjebolkan tanggul berdampak banjir di 7 RW, yakni RW 18, 19, 20, 21, 22, 25, 26 dan jalan raya. Sedangkan banjir terparah berada di RW 26 RT 6 perumahan Dinar Indah. ”Perumahan Dinar Elok juga sebagian terkena banjir yaitu di RW 20, 21, 22,” terangnya.

Saat ini, warga yang terkena banjir paling parah ditempatkan pada penampungan sementara yakni berada di musala dan balai desa. Bahkan dalam waktu dekat, pihaknya akan mengundang pihak pengembang untuk mencari solusi terkait bencana banjir yang sering melanda wilayah itu. ”Kami akan mempertemukan pengembang dan para warga. Selain itu, kami juga berharap kepada pemerintah ikut meng-handle bencana ini,” pungkasnya. (mha/zal/ce1)