BISNIS BARU: Riri Novita (depan) bersama pengelola Kafe Repoeblik Nongkrong berpose di kafe yang didirikan. (DOK. PRIBADI)
BISNIS BARU: Riri Novita (depan) bersama pengelola Kafe Repoeblik Nongkrong berpose di kafe yang didirikan. (DOK. PRIBADI)
BISNIS BARU: Riri Novita (depan) bersama pengelola Kafe Repoeblik Nongkrong berpose di kafe yang didirikan. (DOK. PRIBADI)

Lazimnya kafe adalah tempat untuk berkumpul dan sekadar menikmati aneka menu yang disajikan. Namun di Kafe Repoeblik Nongkrong, setiap pengunjung dapat memperoleh pengetahuan. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL, Tembalang

JIKA Anda warga Kota Semarang, khususnya yang tinggal di Tembalang, tentu tidak asing dengan kafe satu ini. Hampir setiap waktu selalu ramai pengunjung. Tidak hanya kalangan anak muda, tetapi juga lintas usia. Uniknya, mereka yang datang ke sana akan betah berlama-lama karena memang suasananya sangat mendukung.

Ya, kafe yang dimaksud adalah Repoeblik Nongkrong yang terletak di Jalan Tirto Agung 12A-4 Tembalang, Semarang. Kafe yang berdiri di atas lahan seluas 4×8 meter dengan dua lantai ini difasilitasi dengan ruang koleksi berbagai macam buku dan majalah. Sehingga mampu memanjakan siapa saja yang datang. Rata-rata koleksinya berbentuk novel baik karya penulis dalam maupun luar negeri.

Riri Novita, sang pemilik kafe mengaku sengaja menyediakan buku-buku tersebut karena ingin membantu orang-orang yang ingin menyalurkan hobinya membaca. Menurutnya, ia akan merasa puas ketika melihat banyak pengunjung yang menghabiskan waktunya untuk membaca dan berdiskusi.

”Kebetulan saya sendiri juga hobi membaca. Jadi klop deh,” aku perempuan yang juga aktif di Lembaga Studi Pers dan Informasi (Lespi) Semarang ini.

Riri –sapaan akrabnya- menceritakan, kafe itu didirikan sekitar empat bulan lalu. Tujuan utama pendirian kafe tersebut tidak lain untuk menciptakan ruang publik bagi siapa pun untuk saling berbagi pengetahuan. Tidak heran, jika kemudian di tempat itu banyak digelar acara bedah buku dan diskusi jurnalistik.

”Kami ingin semua orang mendapatkan oleh-oleh ilmu setelah pulang dari sini,” kata Riri yang mengaku telah melakukan riset pengembangan kurang lebih 3 tahun sebelum mendirikan kafe tersebut.

Ditambahkan gadis yang berprofesi sebagai penyiar radio ini, meskipun kafe tersebut belum lama dibuka, namun pengunjungnya terbilang cukup ramai. Rata-rata mereka adalah anak muda atau orang tua yang suka melakukan diskusi kelompok, rapat informal atau sekadar mengerjakan tugas kuliah. Terkadang juga untuk nonton bareng pertandingan sepak bola dan konser musik dan pesta ulang tahun. ”Kebanyakan mereka suka dengan kopi istemewa yang kami sajikan,” akunya.

Dikatakan istimewa, lanjut Riri, adalah karena kopi tersebut merupakan kopi hitam yang diproduksi tanpa menggunakan mesin. Menurut dia, material kopi itu diambil dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian kopi tersebut dicampur menjadi satu sehingga menghasilkan rasa yang enak, smooth, dan tasty.

”Kopi racikan kami ini bahkan sudah kami ekspor ke luar negeri,” ujar Riri, sambil menambahkan kafenya juga menyediakan aneka jenis minuman dan makanan lainnya. (*/aro/ce1)