MUNGKID— Kondisi psikologis Tulip, 13, bukan nama sebenarnya, siswi sebuah MTS di Kabupaten Magelang yang menjadi korban perkosaan mengalami trauma berat. Dia butuh pendampingan secara psikologis.

“Sejak kejadian itu dia sering melamun dan tak banyak bicara. Juga sering berdiam diri tak mau bertemu orang,” kata saudara korban, SS kemarin.

Tulip, kata dia juga sudah enggan bersekolah lagi. Dia malu dengan teman-temannya karena sudah menjadi korban pemerkosaan YG, 14, kakak kelasnya. “Dia bilang sudah tidak mau sekolah lagi,” katanya sedih.

Usai diperkosa, Tulip sempat pingsan, kemudian ditinggal pergi begitu saja. Korban ditemukan dan diantar pulang oleh salah satu warga yang melintas.
Setelah sadar, korban mengadukan kejadian yang menimpanya pada orang tuanya. Meskipun, pada awalnya, korban hanya menangis dan menahan sakit. “Dari visum, positif korban mengalami kekerasan seksual. Pelaku juga diketahui sudah kerap mengejar-ngejar korban,” paparnya.

Ketua LSM Sahabat Perempuan Wariyatun mengatakan melihat kondisi korban saat ini mengalami depresi berat. Dia mengalami tekanan psikologis dan harus didampingi psikiater.

“Untuk menghilangkan trauma itu hampir tidak bisa karena korban mengalami pelecehan seksual yang merenggut kehormatannya,” kata dia.

Pihaknya mengatakan bakal terus melakukan pendampingan secara psikologis terhadap korban. Termasuk pendampingan saat menghadapi proses hukum. “Dia butuh dikuatkan oleh orang-orang terdekatnya,” kata Wariyatun.

Pihaknya mengaku harus hati- hati dalam mengawal dan mendampingi kasus ini. Karena, antara pelaku dan korban adalah sama-sama anak-anak di bawah umur.

Menurut Wariyatun, dalam peraturan yang baru, terdapat tahapan diversi atau mediasi antara korban dan pelaku. Jangan sampai diversi ini mengorbankan tiga hak korban yang harus dipenuhi oleh negara.

“Yakni, hak atas kebenaran, keadilan, dan pemulihan seperti sosial, psikososial, dan tidak boleh dikeluarkan dari sekolah. Kami juga menuntut polisi, jaksa, bisa memenuhi hal itu,” urainya.

Sebelumnya diberitakan korban diperkosa usai mengikuti kegiatan class meeting, pekan lalu. Awalnya, dia berjalan sendirian melewati perkebunan menuju rumahnya.

Namun, ada tiga anak laki-laki yang sudah menghadangnya, masing-masing adalah YG, warga Petung Kecamatan Candimulyo, HS, 14, warga Purwodadi Jateng, dan AG, 14, warga Kecamatan Tegalrejo. Tiba-tiba saja, korban diseret ke kebun oleh ketiganya.

Sementara, AG dan HS menjaga kondisi jalanan, saat YG memperkosa korbannya. Wajah korban ditutup pakai sarung saat pelaku memperkosanya. Pemerkosaan itu dilakukan sekitar dua jam lamanya.

Kedua orang tua korban naik pitam begitu mengetahui hal yang menimpa putri sulungnya itu. Sehari setelah kejadian, keluarga korban dan keluarga pelaku melakukan pertemuan.

Dari pertemuan itu, disepakati agar orang tua pelaku menyekolahkan korban hingga lulus MTs, kemudian menikahinya setelah itu. Namun demikian, pernikahan tersebut hanya sebatas formalitas dan korban akan diceraikan kembali.

Namun, perjanjian itu tak kunjung ditepati dan tidak ada tindak lanjut. Akhirnya keluarga melaporkan pada polisi dan meminta agar tetap ada proses penegakan hukum. Apalagi, tiga pelaku itu akhirnya pindah sekolah pasca kejadian tersebut. (vie/lis)