ELEGAN : Sanca kembang merupakan batu khas asal Wonosobo dari Kali Luk Ulo. (Sumali ibnu chamid/radar kedu)
ELEGAN : Sanca kembang merupakan batu khas asal Wonosobo dari Kali Luk Ulo. (Sumali ibnu chamid/radar kedu)
ELEGAN : Sanca kembang merupakan batu khas asal Wonosobo dari Kali Luk Ulo. (Sumali ibnu chamid/radar kedu)

WONOSOBO – Peminat masyarakat Wonosobo terhadap batu akik terus meningkat. Seiring booming nasional, jumlah anggota komunitas Lamuk Wonosobo Gemstone (LWG) yang sebelumnya berjumlah 180 orang, saat ini jumlahnya mencapai 500 orang.

“Jumlah anggota komunitas makin hari makin bertambah. Ini juga ada pengaruh booming nasional,” ungkap Ketua Lamuk Wonosobo Gemstone, Djuhartanto kemarin (20/3) di sela pembukaan pameran batu aji Wonosobo di Assa Cafe.

Menurut Djuhartanto, Lamuk Wonosobo Gemstone sudah lama ada, karena Wonosobo memiliki sejarah keterikatan dengan batu. Salah satunya, dari Kali Luk Ulo yang melintas di wilayah Kecamatan Kaliwiro dan Wadaslintang. Sudah sejak lama menyimpan tiga jenis batu meliputi agate, jesper dan kalsedoni.

“Dari tiga jenis ini, varian ke bawahnya menjadi banyak nama dengan berbagai jenis keunikan,” katanya.

Pria yang akrab dengan panggilan Koh Dju itu menyebutkan, meski terdapat banyak batu. Komunitas tidak menyarankan kepada masyarakat untuk menggali sungai. Karena tindakan itu bertentangan dengan aturan perawatan sungai. “Kami meminta pemerintah memeriksa keberadaan sungai. Jangan sampai booming ini membuat sungai dieksploitasi,” sarannya.

Untuk pameran batu aji, akan berlangsung selama 3 hari hingga 22 Maret. Dalam ajang itu berbagai batu dipamerkan dari berbagai daerah.
Seperti Wonosobo, Banjarnegara, Purwokerto, Purbalingga, Jakarta dan Bekasi. Motto dari komunitas ini, satu batu sejuta kawan.

Bupati Wonosobo Kholiq Arif di sela membuka pameran mengatakan, pihaknya sudah menyukai batu akik sejak lama. Namun, seperti motto komunitas, batu akik yang dimiliki, biasanya juga dibagi ke beberapa kawan dan kolega. “Sering sekali, watu mung mampir (sering sekali, batu cuma mampir),” tuturnya.

Menanggapi booming batu akik, Kholiq merunut pada sejarah tutur para tokoh sepuh Wonosobo. Menurutnya, booming ini tidak serta merta, namun menurut para sesepuh, bagian dari filosofi batu. Masyarakat saat ini bisa belajar diam, tidak berkonflik menjelekkan pemimpin. Atau antarpemimpin saling serang saling menjelekkan.

“Batu mengajarkan untuk meneng (diam), untuk itu biarkan pemerintahan Presiden Jokowi untuk bekerja. Demikian para pemimpin jangan umbar konflik, ini makna batu,” paparnya.

Kholiq mendorong bahwa booming batu ini bisa lama. Karena batu akik bukan untuk dikultuskan, tetapi merupakan kreasi, cinta rasa terhadap seni. Selain itu, menjadi penopang industri kreatif.

“Untuk itu saya sarankan kepada perajin batu akik untuk menabung, sebagai bekal membangun usaha lebih besar lagi,” jelasnya. (ali/lis)