Ngereh : Indra Oktora sedang melakukan perfom art di Mudal Manggis Magelang bersama anggota Watu Magelang (Walang) lainnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
Ngereh :  Indra Oktora sedang melakukan perfom art di Mudal Manggis Magelang bersama anggota Watu Magelang (Walang) lainnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
Ngereh : Indra Oktora sedang melakukan perfom art di Mudal Manggis Magelang bersama anggota Watu Magelang (Walang) lainnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Sembilan anggota komunias Watu Magelang (Walang) mengadu kepada Tuhan di salah satu sumber mata air di Mudal Manggis, Magelang, pekan lalu. Perfom art dengan tarian refleksi diri yang diberi nama ngereh berlangsung sekitar 30 menit.

Reh yang artinya banyu (air) dalam bahasa Jawa kuno, sebagai kunci pemangku tanggung jawab sumber daya alam yang harus dijaga. Bagi mereka, air merupakan komponen terbesar dalam tubuh manusia.

“Kita dari air, kita butuh air, kita jaga air, dan air akan menjaga kita,” kata salah satu anggota Walang, Indra Oktora, 24.
Istilah itu berbanding lurus dengan ulah manusia yang mengganggu ekosistem air. Dia mencontohkan terjadinya bencana alam banjir ataupun kekeringan karena ulah nakal manusia. Di antaranya, merusak mata air, mencemari air dengan membuang sampah dan sebagainya.

“Air itu dari Tuhan, tangan ini diciptakan untuk menjaga air. Tapi tangan yang merusak air, maka hindarilah itu,” tandas warga Botton I, Magelang tersebut.

Dia mengumpamakan, sinergitas manusia dengan alam tercermin dari air bening sebagai sumber pantulan diri. “Sebagaimana hati yang bening, akan jadi cerminan orang lain, akan bening pula pada kita,” paparnya yang menggambarkan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula.

Kata Indra, tarian kontemporer semi meditatif itu juga sebagai komunikasi dengan Tuhan melalui ayat-ayat Sang Pencipta yang ditulis di alam. Alat-alat musik sperti slompret Ponorogo, suling Jawa, siter, saluang Minang juga mengiringi tarian itu.

“Komunikasi dengan Tuhan bukan hanya lewat ibadah formal saja. Menjaga alam dan tidak mersaknya adalah wujud dari komunikasi dengan Tuhan. Air sumber hidup dan wujud refleksi, semakin tenang, semakin banyak makhluk hidup di sana. Semakin kita merendah dengan alam, semakin banyak ilmu kita, maka semakin dekat kita dengan Tuhan,” ujarnya. (put/lis)