ASLI TAPI PALSU: Barang bukti ribuan botol oli yang diduga palsu yang sudah dikemas dalam kardus siap edar. (bawah) Edi Santoso alias Fredy pemilik rumah tempat memproduksi oli yang diduga palsu tersebut. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ASLI TAPI PALSU: Barang bukti ribuan botol oli yang diduga palsu yang sudah dikemas dalam kardus siap edar. (bawah) Edi Santoso alias Fredy pemilik rumah tempat memproduksi oli yang diduga palsu tersebut. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ASLI TAPI PALSU: Barang bukti ribuan botol oli yang diduga palsu yang sudah dikemas dalam kardus siap edar. (bawah) Edi Santoso alias Fredy pemilik rumah tempat memproduksi oli yang diduga palsu tersebut. (FOTO-FOTO: NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PENGREBEKAN OLI PALSU_NURCHAMIM (19)WEB

PANGGUNG LOR – Tiga rumah yang digunakan untuk memproduksi minyak pelumas atau oli yang diduga palsu digerebek aparat Kodim 0733 BS/Semarang bersama Denintel Kodam IV/Diponegoro, Kamis (19/3) pagi. Tiga rumah tersebut berada di Kelurahan Panggung Lor, Semarang Utara. Yakni, dua rumah di Jalan Beton Mas Utara No 217 dan No 147 yang digunakan untuk memproduksi berbagai merek oli, serta satu rumah di Jalan Kalimas 2 No 49 yang digunakan sebagai tempat pengemasan oli palsu. Ironisnya, bukan aparat kepolisian yang melakukan penggerebekan, tapi justru anggota TNI. Padahal praktik pembuatan oli palsu tersebut sudah berlangsung sekitar 1,5 tahun.

Dalam penggerebekan sekitar pukul 07.00 tersebut, ribuan minyak pelumas berbagai merek terkenal disita, di antaranya Yamalube, Mesran, AHM, Federal Oil, Shell, dan Castrol. Semuanya sudah dikemas dalam kardus dan siap diedarkan. Selain itu, petugas yang mengembangkan penggerebekan juga menemukan sebuah tempat penyimpanan minyak pelumas palsu, serta bahan-bahan seperti tutup plastik, botol, dan kardus di sebuah rumah di Jalan Kalimas 2 No 94, yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pertama. Diketahui, pengelola tempat produksi oli palsu tersebut adalah seorang pengusaha bernama Handoyo Prayitno, 38.

Dandim 0733 BS/Semarang Letkol Inf Muhammad Taufiq Zega mengatakan, pihaknya menemukan praktik produksi dan peredaran oli yang diduga palsu itu berdasarkan informasi masyarakat. ”Kami juga menemukan mesin untuk menempel label pada botol. Ada juga mesin pengemas untuk mengikat tali pada kardus,” kata Zega kepada Jawa Pos Radar Semarang di lokasi kejadian.

Selain itu, pihaknya menyita lembaran-lembaran label dan stiker. Pihaknya mengaku akan menyerahkan penyelidikan kasus tersebut kepada aparat kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut. ”Mereka bekerja sangat rapi. Sulit membedakan dengan yang asli. Omzetnya diduga miliaran rupiah. Mereka mengedarkan hampir di seluruh Jateng,” katanya.

Dalam penggerebekan di rumah Jalan Kalimas 2 No 94, petugas sempat mendobrak pintu yang terkunci dari dalam. Saat itu, sejumlah pekerja kalang kabut dan melarikan diri dengan cara memanjat tembok belakang. Bahkan seorang wanita, istri Handoyo, sempat berteriak-teriak sambil memaki aparat TNI yang melakukan penggerebekan.

Dia merasa dilecehkan karena petugas tanpa izin telah mengacak-acak tempatnya. Pasalnya, sejumlah petugas saat melakukan penggerebekan membawa senjata laras panjang.

”Biasanya di rumah ini digunakan pengemasan dan pemasaran. Ada beberapa karyawan, kalau saya cuma sopir,” ujar Slamet Sumei yang mengaku sudah bekerja selama tiga bulan.

Selama tiga bulan itu, Slamet mengaku sudah mengirim hingga ke Lasem. Sedangkan untuk harga jual oli, dikatakannya lebih murah dari harga asli. Misalnya oli Federal dijual dengan harga Rp 24 ribu dari harga asli Rp 32 ribu. ”Paling jauh kirim ke Lasem. Ada sekitar 15 karton,” akunya.

Pemilik rumah, Handoyo Prayitno, mengaku, sudah menjalankan usahanya sejak 1,5 tahun lalu. Hal itu dilakukannya dengan bantuan beberapa karyawan, mulai dari pengolahan oli bekas sampai pengemasan dan pemasaran. Oli mesin dari berbagai merek ini dibuat dengan cara mengolah kembali oli mesin bekas yang ditampungnya dari berbagai tempat. Caranya diberikan campuran dan disaring kembali hingga menyerupai oli mesin yang baru. Untuk menyamarkan, ia mengemas oli mesin ini dengan berbagai botol oli bermerek. ”Saya olah lagi biar seperti baru. Beli oli bekas dalam kemasan drum dan juga beli botol bekas dari pemulung,” ujarnya.

Dalam sebulan, Handoyo mampu memproduksi oli sebanyak 500 botol. Mengenai kualitas, ia mengaku oli produksinya berada satu level di bawah oli asli. ”Sudah saya pasarkan ke Kudus, Pati, Rembang, dan Lasem. Kalau Semarang jarang. Keuntungannya Rp 1.500 per botol,” paparnya.

Seorang pria, Edi Santoso alias Fredy, mengaku, sebagai pemilik rumah menyatakan tidak terima atas penggerebekan tersebut. Dia menjelaskan, Handoyo adalah menantunya. ”TNI telah melanggar aturan. Menggerebek pakai laras panjang jenis M 16, itu jelas melanggar aturan. Tidak boleh dengan cara seperti itu. Polisi saja punya etika, kenapa TNI malah bertindak ngawur seperti itu. Ini sudah di luar protap. Kami ini bukan teroris!” tandasnya.

Dijelaskannya, TNI tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penggerebekan. TNI telah melakukan penyerobotan wilayah hukum kepolisian. Apalagi ini disertai dengan tindak perusakan. ”Mereka telah menyalahi protap. Enak saja bilang palsu. Dari mana mereka bisa tahu itu oli palsu? Bukannya yang membuktikan adalah hasil laboratorium?” katanya.

Pihaknya menyatakan akan melaporkan kejadian penggerebekan yang menyalahi aturan tersebut kepada Polisi Militer Daerah Militer (Pomdam) IV/Diponegoro. Handoyo sendiri mengaku, dalam penggerebekan tersebut, petugas sambil menodongkan laras panjang. ”Tanpa ada penjelasan, dan pemberitahuan. Tiba-tiba mereka datang sambil membawa laras panjang,” ujar Handoyo.

Kuasa hukum Edi Santoso, Bagas Sardjito, mengatakan, pihaknya hari ini (Jumat) akan melapor ke Pomdam secara resmi. ”Kami akan melakukan upaya hukum. Jelas ada indikasinya menyalahi prosedur. TNI seharusnya melakukan pengamanan negara. Dalam hal ini, mereka justru menabrak wilayah kepolisian,” katanya.

Pihaknya mempermasalahkan cara penggerebekan yang dilakukan oleh gabungan TNI tersebut. ”Silakan kasus dugaan oli palsu diselidiki oleh kepolisian. Sedangkan pelanggaran saat penggerebekan itu ada indikasi tindak pidana pengerusakan,” ujarnya.

Ditanya siapa yang akan dilaporkan? Bagas menjelaskan, pihaknya akan melaporkan oknum petugas TNI yang melakukan perusakan dalam penggerebekan tersebut. ”Yang akan kami laporkan adalah oknum,” katanya.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang, Ngargono, mengatakan, berdasarkan indikasi adanya praktik mencampur dan memindahkan ke tempat dan dikemas, lalu diperjualbelikan atau diedarkan, itu sudah jelas terindikasi melakukan pemalsuan. ”Itu melanggar aturan,” tegasnya.

Dikatakannya, pemilik usaha tersebut bisa dijerat dengan UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasal 8 UU tersebut mengatur larangan bagi pelaku usaha agar tidak menjual barang-barang yang telah distandardisasi oleh negara. ”Ancaman hukuman bagi pelaku adalah denda paling banyak Rp 5 miliar dan kurungan pidana paling lama lima tahun,” katanya. (amu/aro/ce1)