Tepis Anggapan Tidak Layak Dikonsumsi

122
DEMO MASAK : Kepala Bulog Demak, Sri Hartati didampingi Kabid Pelayanan Publik Divre Bulog Semarang, Nawaf memperlihatkan beras raskin yang dimasak untuk diperlihatkan kepada para aktivis FKRMD, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DEMO MASAK : Kepala Bulog Demak, Sri Hartati didampingi Kabid Pelayanan Publik Divre Bulog Semarang, Nawaf memperlihatkan beras raskin yang dimasak untuk diperlihatkan kepada para aktivis FKRMD, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DEMO MASAK : Kepala Bulog Demak, Sri Hartati didampingi Kabid Pelayanan Publik Divre Bulog Semarang, Nawaf memperlihatkan beras raskin yang dimasak untuk diperlihatkan kepada para aktivis FKRMD, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Bulog Demak mendemonstrasikan cara memasak beras miskin (Raskin), Rabu (18/3) kemarin. Hal itu, untuk menepis tudingan bahwa Raskin Bulog tidak layak konsumsi sekaligus menjawab kritikan yang disampaikan Forum Komunikasi Rakyat dan Masyarakat Demak (FKRMD) dalam audiensi di Kantor Bulog kemarin.

Beras yang dianggap kondisinya apek tersebut dimasak dan ditunjukkan langsung di hadapan para aktivis FKRMD yang dipimpin Rifai. Agar tidak apek, raskin yang dimasak diberi daun pandan dan dikaru di dalam dandang. Hadir pula dalam audiensi tersebut, Kabid Pelayanan Publik Divre Bulog Semarang, Nawaf, Kepala Bulog Demak Sri Hartati, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Demak Prita Rextiana, Tim Koordinator Raskin Kabupaten, Yahya serta rekanan pemasok raskin.

Nawaf mengatakan, beras raskin yang disalurkan bulog telah diseleksi sebelum dikirimkan ke masyarakat penerima. Meski demikian, beras yang disimpan lebih dari satu bulan memang akan menggempal. Sedangkan, beras dalam karung yang ditemukan isinya berkurang, biasanya akibat zak atau karung yang dipakai sebagai wadah adakalanya rusak sehingga beras ada yang bocor. “Karena itu, berbagai kritikan kami terima sebagai cambuk untuk perbaikan Bulog ke depan agar menjadi lebih baik lagi,” terangnya.

Menurutnya, kebutuhan raskin di Jateng tercatat sebanyak 37.200 ton. Beras tersebut disalurkan melalui gudang-gudang yang ada di daerah, termasuk di Gudang Bulog Demak. Nawaf sendiri mengkritisi Badan Pusat Statistik (BPS) yang selalu mengatakan bahwa Indonesia surplus beras antara 5 juta ton hingga 10 juta ton. “Lalu, kemana beras itu?” tanya dia.

Yang jelas, kata Nawaf, pembagian raskin secara merata di masyarakat atau yang dikenal dengan istilah rasto tetap dianggap salah atau tidak benar. Mestinya, raskin dibagi sesuai peruntukannya bagi warga miskin yang membutuhkan.

“Sayangnya, kalau ada raskin atau bantuan lainnya ramai-ramai mengaku miskin. Ini budaya masyarakat kita. Sudah jelas, kalau raskin diberikan pada orang yang mampu, tentu tidak akan dimakan. Bahkan, bisa jadi raskin itu dijual. Sebaliknya, kalau yang menerima raskin itu warga kurang mampu, saya kira tetap akan dimakan,” katanya.

Kepala BPS Demak, data yang disampaikan BPS dalam berbagai pendataan diakuinya kadang berbenturan dengan kondisi di lapangan. “Meski demikian, pada 2015 ini kami akan melakukan perbaikan untuk pemutakhiran basis data secara terpadu,” jelasnya.

Staf Tim Raskin Kabupaten dari Bagian Perekonomian Setda Pemkab Demak, Tulus, menambahkan, sosialisasi penerimaan raskin 15 kilogram kepada masyarakat penerima sudah dilakukan berkali-kali, termasuk melalui forum pengajian.

“Bahwa, barang siapa yang memakan haknya orang miskin berdosa besar. Jadi, sudah ada dalil-dalil yang disampaikan supaya raskin ini betul-betul diterima warga yang berhak saja,” katanya.

Menurutnya, di Demak, sebetulnya sudah ada desa yang mempraktikkan pemberian raskin khusus untuk warga miskin yang berhak. Ini seperti dijalankan di Desa Mangunrejo, Kecamatan Kebonagung.

“Raskin yang dibagi tetap 15 kilogram juga tidak ada masalah. Kami berupaya memberikan reward bagi desa yang bisa menyalurkan raskin tepat sasaran,” ujar Tulus.

Ketua FKRMD, Rifai mengatakan, banyak persoalan pendistribusian raskin yang harus dibenahi, utamanya terkait kualitas raskin yang dibagikan ke warga. “Kami berharap, raskin tetap layak dikonsumsi. Jangan sampai raskin berkutu dan berbau apek,” katanya. (hib/ida)