KHIDMAT : Ratusan umat Hindu menggelar upacara melasti di Tuk Mas Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
KHIDMAT : Ratusan umat Hindu menggelar upacara melasti di Tuk Mas Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
KHIDMAT : Ratusan umat Hindu menggelar upacara melasti di Tuk Mas Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID— Ratusan umat Hindu di Kota dan Kabupaten Magelang menggelar kegiatan melasti di sumber mata air Tuk Mas di Desa Lebak Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, kemarin. Ritual jelang perayaan Hari Nyepi ini bertujuan untuk menyucikan diri.

Paruman welaka (tokoh) Parisada Hindu Magelang, I Gede Suardiyasa mengatakan, dalam ajaran Hindu, melasti bermakna menyucikan diri pribadi manusia serta alam, agar pada saat hari raya Nyepi suci baik lahir maupun batin. ”Jadi saat kita merayakan Nyepi diri kita bersih dan suci,” kata Gede, kemarin.

Biasanya upacara melasti tersebut disimbolisasikan dengan labuhan sesaji ke laut serta menyucikan arca, pratima, nyasa, pralingga sebagai wujud atau sthana Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan segala manifestasi-Nya. Namun, karena wilayah Magelang tidak memiliki laut, maka prosesi dipindah ke Tuk Mas ini.

Tuk Mas juga merupakan peninggalan zaman kerajaan Hindu pada abad 6 sampai 7 Masehi silam. Dalam prasasti yang ada di Tuk Mas ini juga disebutkan, sumber air yang mengalir seperti aliran Sungai Gangga. ”Di sumber mata air ini tidak hanya penyucian diri saja tapi juga alam raya beserta isinya di dunia ini terjaga kelestariannya dan dijauhkan dari segala malapetaka,” katanya.

Dalam pelaksanaan melasti tersebut juga dilakukan pelepasan masing-masing satu ekor bebek dan ayam. Gede Suardiyasa menjelaskan, pelepasan ayam kampung tersebut melambangkan pelepasan sifat keserakahan yang ada di dalam diri manusia.

”Sedangkan bebek melambangkan kembalinya sifat suci dari manusia setelah melakukan interopeksi diri. Sebenarnya, bukan hewan bebek, melainkan hewan angsa yang dalam ajaran Hindu mempunyai sifat suci dan bisa hidup di tiga alam yakni darat, air dan udara,” jelasnya.

Gusti Agung Yoga menambahkan, selama pelaksanan Nyepi, umat Hindu melakukan empat berata (catur brata) pantangan yang wajib dilaksanakan. Yakni amati geni (berpantang menyalakan api, amati karya (menghentikan aktivitas kerja), amati lelanguan (menghentikan kesenangan) dan amati lelungaan (berpantang berpergian).

”Dalam kesenyapan hari suci Nyepi itu, umat Hindu melaksanakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri dan inti sari kehidupan semesta. Dengan cara melaksanakan brata penyepian upawasa (tidak makan dan minum), mona brata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur),” imbuhnya.

Sebelum pelaksanaan melasti, umat Hindu di Magelang menggelar sembahyang di Pura Wira Buana, kompleks Akmil. Sebelumnya umat juga telah melakukan acara ngayah (bakti sosial).

Kegiatan lainnya yang akan dilaksanakan yakni pelaksanaan Tawur Agung (mecaru) di Candi Prambanan, Klaten dan sembahyang di Pura Wira Buana, komplek Akmil Magelang. (vie/lis)