PEKALONGAN-Masyarakat yang melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) harus berhati-hati, ketika menerima uang kembalian dari operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Sebab, uang kembalian tersebut bisa saja merupakan lembaran uang palsu (upal).

Sebagaimana kejadian yang menimpa Hilal, 29, ketika melakukan pengisian BBM di sebuah SPBU di Jalan Urip Sumohardjo, Kota Pekalongan. Warga asal Kabupaten Pati tersebut tak mengira bahwa di antara uang pecahan tersebut, ada selembar uang pecahan Rp 50 ribu yang diterimanya dari operator SPBU adalah upal.

“Saya beli bensin, Rabu sore (18/3) kemarin. Uang saya Rp 100 ribu, saat itu saya mengisi bahan bakar Rp 10 ribu. Kembaliannya dua lembar pecahan Rp 20 ribu dan selembar Rp 50 ribu,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Kamis (19/3) kemarin.

Ketika menerima uang kembalian tersebut, Hilal yang bekerja di Pekalongan mengaku tidak menaruh curiga terkait upal tersebut. Namun dirinya merasa janggal ketika laki-laki petugas SPBU mengamati plat nomor kendaraan sembari bertanya daerah asalnya.

“Saya positif saja saat itu, saya pikir itu salah bentuk etika operator SPBU, bersikap ramah. Saya jawab, saya dari Kajen, Kabupaten Pekalongan, asal saya Pati,” kata pria yang mengaku baru sekitar enam bulan menjamah wilayah Pekalongan itu.

Uang palsu tersebut, kata Hilal, diketahui ketika dirinya hendak menggunakan uang tersebut di sebuah warung di Kelurahan Panjang Kecamatan Pekalongan Utara, sekitar pukul 19.00. “Setelah beli bensin, saya ke kantor, kemudian pulang ke kos. Setelah itu makan di warung. Saat membayar, pemilik warung yang mengetahui uang yang saya gunakan palsu,” jelasnya.

Pada Kamis (19/3) sore, Hilal mengaku mendatangi kembali SPBU di dekat pertigaan tersebut. Pria dua anak itu berniat ingin memberitahu pihak SPBU bahwa uang kembalian Rp 50 ribu yang diberikan kemarin merupakan upal. “Saya keliru menduga bahwa operator yang bertugas kemarin (Rabu sore, red) sama dengan petugas yang hari ini (kemarin, red). Setelah saya tanya pengawas SPBU, ternyata orang yang berbeda meski ciri fisiknya hampir sama,” paparnya.

Kejadian upal di SPBU, disinyalir telah sering terjadi dan merugikan masyarakat. “Teman-teman saya juga cerita, kejadian upal di SPBU sering terjadi. Saya berharap pihak SPBU bisa berbenah, saya juga belajar agar lebih teliti,” kata Hilal.

Sementara itu, seorang pengawas SPBU dimaksud, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang mengatakan, kejadian upal di SPBU sering ditemui. Bahkan operator mendapati adanya uang palsu yang diberikan kepada masyarakat yang bernomor polisi luar kota.

“Memang biasanya kalau ada uang palsu membuangnya kepada kendaraan plat nomor luar kota, karena mungkin tidak kembali lagi. Tapi saat saya menjadi operator, begitu ada uang palsu, langsung saya sobek, agar tidak merugikan orang lain,” ungkapnya sambil mengecek upal pecahan Rp 50 ribu tersebut. “Iya, benar ini memang palsu. Kebetulan saya pengawasnya, di sini,” timpalnya.

Pengawas SPBU tersebut menambahkan, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan pengecekan kepada operator SPBU yang bertugas pada Rabu sore. “Siapa operatornya yang bertugas Rabu sore itu, sudah jelas. Tapi hari ini (Kamis, red) tidak masuk,” jelasnya sambil mengecek jadwal operator di dinding kantornya.

Pengawas yang masih menggunakan pakaian tugas itu berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut. Dia juga meminta pelapor (Hilal, red) untuk kembali mendatangi SPBU, pada Jum’at (19/3). “Bukti ini (upal, red) saya simpan. Persoalan ini akan kami selesaikan. Besok (hari ini, red) operator itu kembali bertugas pada jam yang sama,” ujarnya sembari mempersilahkan pengadu (Hilal, red) agar kembali mendatangi kantornya guna menyelesaikan persoalan itu. (han/hil/ida)