Harga Obat Naik, Peternak Puyuh Kelimpungan

176

AMBARAWA– Peternak burung Puyuh di Kabupaten Semarang mulai kelimpungan. Pasalnya dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (USD) menyebabkan harga obat-obatan burung petelur naik. Padahal di musim hujan, burung petelur itu butuh obat-obatan lantaran mudah sakit.

Peternak burung Puyuh, Listriyanto, 45, warga Kelurahan Pojoksari, Ambarawa, mengungkapkan bahwa kenaikan harga obat-obatan burung puyuh sangat memberatkan peternak. Sebab ongkos produksi menjadi tinggi, sedangkan harga penjualan tidak bisa naik secara langsung mengikuti kenaikan harga obat.

Listriyanto membeber, harga obat antiseptik dari Rp 8.000 menjadi Rp 11.000 per sachet, obat antiflu burung dari Rp16.000 menjadi Rp18.000 per sachet serta obat perangsang telor, Rp12.000 menjadi Rp14.000 per sachet. “Harga obat itu naik mengikuti dolar yang juga naik. Kenaikan harga obat mulai pekan ini, sekitar 20 persen dari harga lama,” kata Listriyanto.

Padahal obat-obatan itu sangat dibutuhkan peternak untuk menjaga kesehatan burung puyuh serta merangsang burung untuk rajin bertelur. Apalagi di musim penghujan, banyak burung puyuh yang sakit sehingga kebutuhan obat-obatan sangat tinggi.

Listriyanto berharap harga pakan tidak ikut naik, agar ongkos produksi tidak semakin tinggi. Sebab kalau harga telur puyuh mahal, banyak konsumen yang keberatan membeli telur puyuh. “Musim hujan kami harus menambah stok obat dengan biaya membengkak pula,” kata Listriyanto.

Sementara itu Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Agus Purwoko Djati mengatakan bahwa kenaikan harga obat burung petelur sangat dipengaruhi penurunan nilai rupiah terhadap dolar. Sebab obat-obatan tersebut masih impor dari luar negeri. Agus menyarankan para peternak mulai beralih pada obat tradisional dari rempah-rempah.

“Kami menyarankan beralih ke obat-obatan alternatif. Bahannya banyak tersedia di Kabupaten Semarang seperti bahan jamu-jamuan dari rempah-rempah. Penyuluh kami juga sudah kerap menyosialisasikan obat alternatif ini di kalangan peternak,” kata alumni Universitas Gajahmada ini. (tyo/ida)