NAIK HARGA: Para pedagang tak berani menampung stok dagangan bawang merah lantaran harganya terus naik dan tidak stabil. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
NAIK HARGA: Para pedagang tak berani menampung stok dagangan bawang merah lantaran harganya terus naik dan tidak stabil. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
NAIK HARGA: Para pedagang tak berani menampung stok dagangan bawang merah lantaran harganya terus naik dan tidak stabil. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

KAJEN-Selama sepekan terakhir harga bawang merah di Kabupaten Batang terus merangkak naik. Bahkan, di beberapa pasar tradisonal, seperti Pasar Batang, Pasar Tulis dan Pasar Limpung, harga bawang merah kualitas super yang sebelumnya Rp 16 ribu, sudah melonjak menjadi Rp 22 ribu per kilogram. Bahkan, belum ada tiga hari, harga bawang merah kembali naik menjadi Rp 35 ribu per kilogramnya.

Demikian juga dengan bawang merah ukuran sedang naik dari Rp 10 ribu menjadi Rp 16 ribu per kilogram. Bahkan harga bawang merah ukuran kecil, yang sebelumnya hanya Rp 5.000 naik 150 persen menjadi Rp 15 ribu per kilogram.

Bahkan, kenaikan harga bawang merah lokal tersebut, ternyata diikuti kenaikan harga bawang merah impor. Meski lebih murah Rp 2 ribu per kilogramnya dari bawang lokal, namun konsumen lebih memilih bawang merah lokal, dengan alasan lebih disukai konsumen karena lebih enak.

Yulaekha, 45, pedagang bawang di Pasar Batang mengungkapkan sejak harga bawang merah naik terus, dirinya tidak berani menambah stok bawang merah. Pasti animo pembeli menurun.

“Sekarang masih Rp 35 ribu per kilogramnya, besok naik lagi atau tidak, kami belum tahu. Makanya kami hanya membeli untuk memenuhi kebutuhan pelanggan saja,” kata Yulaekha.

Pengurus Asosiasi Pedagang Pasar Batang, Samsudin, Kamis (19/3) siang kemarin, mengungkapkan bahwa selama sepekan terakhir, pasokan bawang merah di Pasar Batang menurun. Dari semula 50- 75 ton per hari, kini hanya 40 an ton per hari. “Naiknya harga bawang merah hingga 150 persen, membuat permintaan menurun drastis,” tandasnya.

Kepala Bidang Perdagangan, Disperindagkop, Kabupaten Batang, Dewi Muryani, menjelaskan bahwa kenaikan harga bawang lebih disebabkan, karena banyaknya daerah penghasil bawang tidak menghasilkan bawangnya dengan maksimal lanatran curah hujan yang tinggi.

“Kalau gagal panen, tidak juga. Hanya karena curah hujan yang tinggi, hasil panen tidak maksimal. Sehingga petani minta harga bawangnya naik, agar tidak terlalu merugi,” jelas Dewi.

Meski demikian, kata Dewi, kebutuhan akan bawang merah di Kabupaten Batang, masih bisa dipenuhi dari daerah sekitar, termasuk Tegal dan Brebes. Pasokan bawang merah lokal masih lebih besar, jika dibandingkan dengan bawang merah impor.

“Bawang lokal masih diminati masyarakat. Tingginya harga bawang hanya bersifat sementara. Karena panen raya belum terjadi, hanya panen sebagian saja yang hasilnya tidak maksimal,” ujar Dewi. (thd/ida)