RAZIA GAGAL : Tim gabungan yang terdiri atas Disperidagkop, Dinkes, Polres Batang dan Satpol PP, Kabupaten Batang, di Pasar Batang, Rabu (18/3) kemarin, tak membuahkan hasil. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
RAZIA GAGAL : Tim gabungan yang terdiri atas Disperidagkop, Dinkes, Polres Batang dan Satpol PP, Kabupaten Batang, di Pasar Batang, Rabu (18/3) kemarin, tak membuahkan hasil. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
RAZIA GAGAL : Tim gabungan yang terdiri atas Disperidagkop, Dinkes, Polres Batang dan Satpol PP, Kabupaten Batang, di Pasar Batang, Rabu (18/3) kemarin, tak membuahkan hasil. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Inspeksi mendadak pada penjual mi basah di Pasar Batang, Rabu (18/3) kemarin, tidak membuahkan hasil. Pasalnya dari 7 produsen mi basah di Pasar Batang, tinggal dua produsen saja yang bisa dimintai keterangan oleh tim gabungan yang terdiri atas Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop), Dinas Kesehatan (Dinkes), Polres Batang dan Satpol PP Kabupaten Batang.

Ternyata, para produsen mi basah yang sudah mendengar bocoran akan adanya razia, memilih tutup usahanya lebih gasik. Untuk menghindari adanya razia terhadap mi basah tersebut. Seperti usaha milik Nurman, 43, warga Dukuh Pasekalak, Desa Proyonanggan, Kecamatan Batang sengaja menutup usahanya sejak pukul 09.00 dan dibuka lagi di siang harinya. Setelah tim gabungan pergi.

“Biasanya tempat mi basah Pak Nurman tutup pukul 12.00. Tapi sejak pukul 09.00 pagi sudah tutup. Nanti katanya buka lagi, tadi SMS-nya demikian,” kata Sobari, 31, warga Kelurahan Klidang Lor yang menjadi pelanggan mi basah milik Nurman.

Hani, 36, pedagang mi basah di Pasar Batang yang tempatnya tidak jauh dari usaha Nurman, mengaku 3 produsen mi basah di Pasar Batang, letaknya saling berdekatan. Hasil produksinya diedarkan ke seluruh pasar tradisonal yang ada di Kabupaten Batang.

“Setiap hari saya memproduksi mi basah 400 kilogram per hari dan diedarkan ke seluruh pasar tradisional di Batang, termasuk Pasar Tulis,” kata Hany kepada tim gabungan.

Hany menandaskan bahwa mi basah produksinya tidak bisa bertahan lama, karena terbuat dari komposisi tepung, garam, telur dan zat pengawet benzoat yang dibeli dari toko kue. Selama ini, dirinya selalu berpesan pada pembeli bahwa mi basahnya hanya bertahan 3 hari.

“Setiap mi basah selalu saya bungkus kantong plastik, setelah kantong dibuka harus segera dikukus, agar tidak basi. Tapi kalau sudah lebih dari 3 hari, maka mi basah tersebut akan basi dan tidak bisa dimakan,” tandas Hany.

Kepala Bidang Perdagangan, Perindagkop, Kabupaten Batang, Dewi Muryani, menjelaskan bahwa sidak dilaksanakan untuk pengawasan dan pembinaan terhadap pedagang maupun pengusaha mi. Hal ini dilakukan karena sering terjadi kasus keracunan yang diduga dari mi basah tersebut. “Dari 7 produsen mi basah di Pasar Batang, saat sidak dilakukan hanya ada dua pedagang yang buka. Lainnya tidak ada pemiliknya,” jelas Dewi.

Sementara itu, Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit dan Bencana, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Batang, Bachktiar, menegaskan semua sampel mi basah yang membuat puluhan orang keracunan, sudah diamankan untuk diuji di laboratorium kesehatan di Semarang. “Untuk hasil laboratorium, menunggu dua minggu lagi. Karena banyak item yang harus diuji seperti bakteriosidanis dan kimia,” tegas Bachktiar. (thd/ida)