BEJAT: Rochmadi saat digelandang di Mapolres Temanggung. Ia diduga telah mencabuli sejumlah anak di bawah umur. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
BEJAT: Rochmadi saat digelandang di Mapolres Temanggung. Ia diduga telah mencabuli sejumlah anak di bawah umur. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
BEJAT: Rochmadi saat digelandang di Mapolres Temanggung. Ia diduga telah mencabuli sejumlah anak di bawah umur. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)

TEMANGGUNG- Tindakan bejat diduga telah dilakukan oleh Rochmadi, 49. Warga Jumo ini mengaku telah mencabuli tiga bocah di bawah umur.

Rata-rata bocah yang dicabuli berumur delapan tahun. Kakek yang telah memiliki dua orang cucu ini mengatakan, niat melakukan tindakan keji itu dilakukan tanpa kesengajaan. Anak-anak itu kerap main ke rumahnya minta diurut. Dari situlah muncul hasrat untuk memegangi kemaluan bocah-bocah itu.

“Saya kenal dengan anak-anak itu karena memang masih saudara,” terangnya dalam gelar perkara di Mapolres Temanggung, Rabu (18/3).

Perbuatan itu dilakukannya dalam rentang waktu tiga bulan. Rochmadi sudah 10 tahun ditinggal istrinya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri.

Tiap kali istrinya pulang, keduanya tidak saling bertemu karena Rochmadi bekerja di Riau. Rochmadi pulang ke Temanggung baru delapan bulan terakhir. Salah satu korban yang terakhir dicabuli, diiming-imingi Rochmadi akan diberi uang Rp 2.000.

“Uang sakunya setiap hari Rp 3.000. Tapi katanya yang seribu sering dimintai temannya. Ya sudah saya panggil terus saya bilang nanti saya kasih Rp 2.000,” jelasnya.

Kasubag Humas Polres Temanggung AKP Henny Widiati mengatakan, pelaku berhasil dibekuk setelah adanya laporan dari salah satu orangtua korban. Sementara dua korban lainnya belum melapor.

Pernyataan Rochmadi, bertentangan dengan keterangan dari RSK Ngesti Waluyo Parakan yang menjadi tempat visum korban. Humas RSK Ngesti Waluyo, Toni Sudartono mengatakan bahwa dari visum yang dilakukan atas permintaan polisi terdapat 10 anak yang dibawa ke rumah sakit tersebut.

Dari visum dilakukan pada Minggu sore (15/3), terdapat delapan anak yang bersedia divisum sementara dua lainnya menolak. Anak-anak tersebut berusia mulai dari 6 tahun hingga 11 tahun. “Untuk hasilnya kami tidak bisa menyampaikan. Biar kepolisian yang menyampaikan. Tapi memang ada yang sampai robek,” jelas Toni.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya ini pelaku diancam dengan Pasal 82 Juncto 76 E UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan AtasUU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak, subsider Pasal 29 Ayat 1 UU yang sama dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. (mg3/ton)