ANTUSIAS: Sekretaris Tim Penilai Pelaksana Terbaik Gotong Royong Masyarakat tingkat Jateng, Hayat Kustanto disambut anggota kelompok kesenian Warok saat berkunjung ke Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
ANTUSIAS: Sekretaris Tim Penilai Pelaksana Terbaik Gotong Royong Masyarakat tingkat Jateng, Hayat Kustanto disambut anggota kelompok kesenian Warok saat berkunjung ke Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
ANTUSIAS: Sekretaris Tim Penilai Pelaksana Terbaik Gotong Royong Masyarakat tingkat Jateng, Hayat Kustanto disambut anggota kelompok kesenian Warok saat berkunjung ke Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

TEMANGGUNG – Budaya gotong royong tidak hanya sebatas penanganan kegiatan fisik saja. Di masa sekarang, pengertian gotong royong sangat luas. Tradisi itu bisa diartikan berkerja sama dalam segala bidang, termasuk mencari solusi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat melalui kegiatan musyawarah untuk mufakat.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Tim Penilai Pelaksana Terbaik Gotong Royong Masyarakat tingkat Jateng, Hayat Kustanto di sela penilaian di Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Rabu (18/3). Menurutnya, gotong royong perlu dimulai dari lingkup yang paling terkecil yaitu keluarga. Yaitu dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam keluarga secara gotong royong, maka beban keluarga akan menjadi ringan. ”Semua kegiatan dapat dilaksanakan oleh anggota keluarga sehingga akan terjalin komunikasi yang efektif antar anggota keluarga dan saling koordinasi yang sinergi dalam pelaksanaan kegiatan,” ungkapnya.

Desa Ngropoh menjadi salah satu nominator pelaksana gotong royong masyarakat tingkat Jateng terbaik. Sebelumnya, dari 35 desa dan kelurahan yang menjadi wakil kabupaten/kota, telah terpilih 3 desa dan 3 kelurahan terbaik. Yaitu Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, dan Desa Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Sementara untuk tingkat kota yang masuk nominasi terbaik adalah Kelurahan Yosorejo, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Kelurahan Kalicari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, serta Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.

Anggota tim penilai dari Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapermades) Jateng, Elyta Very Wijaya mengatakan desa dan kelurahan terbaik se-Jateng nantinya akan maju ke tingkat nasional.

Penilaian kemarin dilakukan dengan metode wawancara, juga kunjungan ke sejumlah titik seperti embung desa, sumur resapan, pemanfaatan biogas, dan bangunan swadaya masyarakat. Tim penilai menggunakan 4 aspek dalam penilaian. Yaitu bidang kemasyarakatan, ekonomi, sosial budaya, agama, dan lingkungan.

Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi berharap Desa Ngropoh mampu meraih juara pertama dan maju ke tingkat nasional. ”Desa Ngropoh ini sudah lama menjadi sentra buah durian. Selain itu banyak potensi lain seperti adanya embung yang dikelola secara gotong royong, dan sejumlah fasilitas umum yang dibangun dengan dana swadaya masyarakat,” paparnya. (ric/ce1)