Baru 2 Bulan, Omzet Capai Rp 40 Juta

166
ENTREPRENEUR: Muslim dan bandeng cabut duri buatannya yang disimpan di lemari es. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ENTREPRENEUR: Muslim dan bandeng cabut duri buatannya yang disimpan di lemari es. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ENTREPRENEUR: Muslim dan bandeng cabut duri buatannya yang disimpan di lemari es. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berawal dari bermain ke rumah teman, Muslim tercetus ide berbisnis bandeng cabut duri. Bahkan baru 2 bulan digeluti, omzetnya kini sudah lebih dari Rp 40 juta per bulan. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

INSPIRASI bisnis bisa didapat dari mana saja, dan kapan saja. Tergantung kecerdasan dan kreativitas seseorang dalam menangkap peluang bisnis tersebut. Seperti halnya Muslim, warga Bringin RT 2 RW 8 Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan ini. Pria 31 tahun ini memutuskan menekuni bisnis bandeng cabut duri sejak 2 bulan lalu.

”Saya ini baru merintis, masih butuh banyak belajar dan studi banding. Alhamdulillah, baru dua bulan hasilnya lumayan. Omzet untuk bandeng cabut duri mencapai Rp 40 juta per bulan,” kata Muslim kepada Radar Semarang.

Bisnis berbahan dasar ikan bandeng itu saat ini dikembangkan dalam wadah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bernama Semesta Ngaliyan. ”Sudah ada berbagai produk yang dihasilkan UMKM Semesta, di antaranya nugget bandeng cabut duri, kue nagaku buah naga, bandeng bakpia, dan lainnya. Untuk bandeng cabut duri, saya kelola sendiri dengan melibatkan tiga karyawan,” ujarnya.

Sedangkan di UMKM sendiri memiliki 20 anggota. Namun hingga saat ini yang aktif 12 orang. Sejauh ini, lanjutnya, usaha tersebut dikelola secara mandiri. Artinya, belum ada keterlibatan pihak lain dalam hal bantuan modal.

”Kami berusaha terus mengembangkan dengan berbagai cara. Misalnya, mengikuti event pameran kewirausahaan, promo produk, dan lain-lain,” katanya.

Pemasaran yang dilakukan saat ini baru sebatas dari mulut ke mulut. Melalui program-program arisan perumahan dan kelurahan. ”Alhamdulillah, pemesannya cukup banyak. Sementara produk unggulannya saat ini nugget bandeng cabut duri,” ujarnya.

Dalam sehari, produk nugget bandeng duri yang dikelola Muslim mencapai 30-35 kg. Kadang juga tak menutup kemungkinan bertambah. ”Sering juga dapat pesanan kateringan. Belakangan, RSUP dr Kariadi juga sering memesan,” akunya.

Dia mengaku, mendapat inspirasi bisnis bandeng cabut duri saat iseng main ke tempat temannya di sebuah rumah susun sewa (Rusunawa) Kaligawe pada 2013. ”Teman saya memang terlebih dulu memulai bisnis bandeng cabut duri. Saya sering ikut mengirim pesanan bandeng cabut duri ke Jakarta untuk belajar seluk-beluk bisnis ini,” katanya.

Ia belajar mulai dari proses pengambilan duri bandeng hingga manajemen pemasarannya. Muslim menilai bisnis tersebut memiliki prospek bagus. Akhirnya, Muslim dengan modal awal Rp 3 juta nekat memulai bisnis bandeng cabut duri tersebut. ”Modalnya hanya Rp 3 juta. Kali pertama hanya bikin 5 kg bandeng,” kenangnya.

Berbekal kenekatan dan keuletannya, ternyata bisnis bandeng cabut duri tersebut cukup memiliki pangsa pasar yang bagus. ”Prosesnya sangat mudah kok. Punggung bandeng dibelah menggunakan pisau dan gunting. Ada sedikitnya 8 bagian tulang per ekor bandeng yang perlu diambil. Ini bandengnya fresh bukan presto,” jelasnya.

Muslim mengaku, dalam pengembangan bisnisnya, ia belum memiliki konsultan atau pendamping kewirausahaan. Hal itu untuk menata dan membentuk sinergitas dengan strategi bisnis yang melibatkan berbagai elemen, termasuk dengan pemerintah. ”Saat ini ada dari Sekcam Ngaliyan yang turut melakukan monitoring,” kata ayah dua anak ini.

Ke depan, ia punya obsesi mengembangkan bisnis kulinernya tersebut dengan membuka pusat oleh-oleh di Ngaliyan. Untuk mewujudakannya ia membutuhkan support dan sinergi pemerintah.

”Kenapa di Kota Semarang tidak ada UMKM Center? Itu akan sangat membantu kreativitas warga dalam berwirausaha. Juga bisa mewujudkan Semarang sebagai kota yang kondusif untuk berbisnis,” ujarnya. (*/aro/ce1)