Solichul Huda. (ISTIMEWA)
Solichul Huda. (ISTIMEWA)
Solichul Huda. (ISTIMEWA)

PAKAR Teknologi Informasi (IT) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Solichul Huda saat dimintai komentar mengatakan, untuk menganalisis modus penguapan saldo di rekening memerlukan event logs dan data transaksi. ”Event logs adalah catatan proses atau program yang dijalankan dalam aplikasi, di mana dalam kasus ini event logs aplikasi perbankan BTPN,” beber Solichul Huda kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari event logs tersebut akan diketahui siapa yang melakukan, jam dan tanggal berapa proses dijalankan. ”Menurut saya, untuk mengidentifikasi pelakunya tidaklah sulit. Yang paling penting justru penentuan bentuk pelanggaran yang terjadi, di mana pelanggaran ini termasuk kategori korupsi, pencucian uang atau yang lain,” katanya.

Menurutnya, penyidik kepolisian perlu melakukan analisis event logs aplikasi perbankan BTPN untuk mengetahui kronologi terjadinya deposito sebesar Rp 22 miliar tersebut raib. ”Data yang ada dalam event logs akan membuktikan perubahan-perubahan bentuk simpanan pemda dari rekening deposito ke rekening giro atau ke rekening tabungan, demikian juga sebaliknya,” ujarnya.

Catatan histori perubahan rekening dapat dijadikan sebagai bahan untuk merekonstruksi bentuk pelanggaran. Berikutnya, lanjut Huda, menganalisis data transaksi untuk memperoleh catatan transaksi atau lalu lintas transfer uang Rp 22 miliar tersebut.

”Data transaksi deposito dan giro dibuka dan dianalisis aliran uang yang ada di rekening pemda tersebut, termasuk ke rekening mana yang menjadi penerima aliran uang tersebut akan terlihat jelas dari data transaksi ini,” beber pakar yang aktif memantau kasus kejahatan perbankan dan cyber crime ini.

Dia menyarankan, pihak BTPN sebaiknya menganalisis event logs dan data transaksi sendiri, dan hasilnya diserahkan ke kepolisian. Selanjutnya penyidik juga menganalisis dengan metodenya sendiri, dan dilakukan cross check kedua hasil analisis tersebut. ”Kalau ini dilakukan, BTPN akan clear terhadap sangkaan manipulasi oleh pihak BPKP, dan yang penting clear oleh masyarakat atau nasabah,” katanya.

Pun dengan penyidik kepolisian, juga disarankan melakukan analisis event logs dan data transaksi. Kalau yang diperiksa hanya data transaksinya saja, tidak akan diketahui modus pelanggaran secara utuh. ”Sebab, dari event logs tersebut, penyidik akan mengetahui siapa yang melakukan pembuatan rekening, kapan dan jam berapa rekening tersebut dibuat atau ditutup dapat diketahui dari event logs ini,” terangnya. (amu/aro/ce1)