Perda Olahraga Jamin Hari Tua Atlet

118
Budi Santoso. (ISMU P/RADAR SEMARANG)
Budi Santoso. (ISMU P/RADAR SEMARANG)
Budi Santoso. (ISMU P/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Olahraga Jateng butuh payung hukum demi menjaga prestasi. Karena itu, DPRD Jateng terus menggodog peraturan daerah (perda) olahraga yang rencananya akan selesai pertengahan tahun ini. Tak hanya menuju prestasi, namun yang paling penting dari perda itu adalah memberi jaminan hari tua bagi para atlet berprestasi.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Jateng Budi Santoso menuturkan, susunan perda tersebut sudah dalam tahap finishing. Beberapa tahapan seperti perumusan, focus grup discussion (FGD), hingga diseminarkan, telah dilakukan.

Menurutnya, perda ini merupakan rangkuman masukan dari dua arah. Pemerintah dan dewan yang telah menangkap asipirasi dari masyarakat. “Kami jelas mendukung sepenuhnya karena juga butuh landasan yuridis formal untuk perkembangan olahraga Jateng. Dari pembibitan, pembinaan, hingga prestasi atlet,” ugkapnya, kemarin.

Lamanya penggodogan peda ini, kata Budi, gara-gara Jateng ingin payung hukum yang benar-benar sempurna. Pasalnya, ada tiga prinsip yang harus menata keolahragaan di Jateng. Yaitu pendidikan, prestasi dan olahraga rekreasi. “Perda ini diharapkan mampu melindungi daerah-daerah dari pemprov yang ingin cawe-cawe masalah tanggung jawab dan anggaran,” tegasnya.

Setelah perda selesai, pihaknya berencana akan menggandeng KONI untuk menindak lanjuti mengenai nasib atlet berprestasi. Mereka layak mendapatkan penghargaan hingga jaminan hari tua. Dengan begitu, atlet-atlet berpotensi Jateng tidak dicolong daerah lain dengan iming-iming pemberian pekerjaan layak. “Tidak hanya antar provinsi, tapi juga antar daerah. Selama ini banyak yang salah kaprah. Membajak atlet antar daerah demi menjadi juara di porprov. Padahal, kompetisi itu merupakan ajang evaluasi pembibitan masing-masing kabupaten kota,” ungkap Budi.

Sementara itu, Ketua Komisi E DPRD Jateng AS Sukawijaya menambahkan, perda ini bisa memberi kenyamanan atlet. Dengan begitu, tradisi kutu loncat yang merugikan KONI Jateng akan hilang. “Tidak semata salah atlet karena mereka juga butuh jaminan untuk kenyamanan. Nanti akan ada juga regulasi mengenai bagaimana sayarat dan cara perpindahan daerah atlet,” ungkap pria yang akrab disapa Yoyok Sukawi ini. (amh/smu)