”Nanti akan ada banyak siswa yang menganggur. Selain itu, beban siswa akan lebih banyak karena berada di sekolah lebih lama mulai pagi hingga sore.”

Prof Dr Mungin Eddy Wibowo, Guru Besar Unnes

SEMARANG – Wacana kebijakan lima hari sekolah yang dilontarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah tidak serta-merta mendapat dukungan dari masyarakat. Penolakan salah satunya datang dari pakar pendidikan Prof Dr Mungin Eddy Wibowo MPd, Kons. Guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu bahkan dengan tegas menolaknya karena dinilai tidak efektif.

Prof Mungin –biasa akrap disapa- menjelaskan, kebijakan sekolah lima hari bagi siswa itu memang baik dan tepat jika diterapkan di kota sibuk seperti Jakarta. Namun jika diterapkan di luar Jakarta maka akan menjadi tidak efektif. ”Nanti akan ada banyak siswa yang menganggur. Selain itu, beban siswa akan lebih banyak karena berada di sekolah lebih lama mulai pagi hingga sore,” ungkapnya kepada Radar Semarang.

Jika alasan pemprov agar punya banyak waktu antara anak dan orang tua, Mungin tidak sepenuhnya setuju akan hal tersebut. Pasalnya, banyak dari orang tua yang masih bekerja selama enam hari. Sehingga anak-anak menjadi tidak terurus dan bebas bermain. ”Saya rasa anak-anak belum siap diperlakukan seperti itu. Perkembangan anak itu beda-beda,” imbuhnya.

Hal yang paling ekstrem jika kebijakan itu tetap diberlakukan, anak akan merasa bosan di sekolah. Sebab ada batas-batas tertentu anak akan mengalami kejenuhan ketika lama-lama di sekolah. Selain itu, daya serap anak menjadi semakin berkurang. ”Bahkan gurunya juga akan mengalami nasib serupa jika tidak memiliki pembelajaran yang kreatif,” tandasnya.

Dia menambahkan, psikologi anak juga harus tetap diperhatikan. Dengan menerima pembelajaran secara serentak di sekolah, menjadikan perkembangan mereka tidak bagus. Selain belajar, anak juga butuh bermain dan berinteraksi dengan teman lain tanpa adanya beban. ”Ibarat makan, anak kemudian dijejali banyak makanan. Sehingga tidak efektif,” ungkapnya.

Oleh karenanya, Mungin berharap pemprov tidak jadi memberlakukan kebijakan tersebut. Dalam arti masih tetap memberlakukan enam hari sekolah. Menurutnya, jika alasan supaya dapat bertemu keluarga, sekolah enam hari juga masih memungkinkan hal tersebut. Rata-rata orang tua bekerja sampai pukul 14.00–15.00. Sehingga masih bisa berinteraksi pada sore dan juga malam hari. ”Hal ini berbeda dengan Jakarta, rata-rata orang tua pulangnya malam hari,” pungkasnya.

Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi mengatakan, wacana tersebut tentu sudah dipertimbangkan dengan matang oleh Gubernur Ganjar Pranowo. Namun demikian, untuk realisasinya tentu jangan grusa-grusu. Harus ada kajian yang mendalam sebelum diputuskan apakah wacana tersebut jadi atau batal dilaksanakan.

”DPRD, dalam hal ini Komisi E DPRD Jateng akan ikut mengkaji wacana itu. Nanti akan mengundang pihak-pihak terkait untuk membahas hal ini,” kata Rukma di Gedung Berlian Senin (16/3).

Politisi PDIP itu mengatakan, gubernur mewacanakan sekolah lima hari dalam sepekan itu bisa jadi menurut pandangan gubernur sangat baik. Namun demikian, hal ini tentu tidak bisa langsung diputuskan. Karena banyak hal yang terkait dan harus diperhatikan. ”Kalau saya belum bisa menilai (wacana) ini lebih baik atau tidak. Saya akan menunggu kajian para pakar dan pihak-pihak terkait lebih dahulu,” terangnya. (fai/ric/ce1)