Regulasi Penambangan Segera Terbit

140
TERUS DIBURU : Abdulah, salah satu pedagang batu akik sedang memeriksa dagangannya saat mengikuti Pameran UMKM beberapa waktu lalu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TERUS DIBURU : Abdulah, salah satu pedagang batu akik sedang memeriksa dagangannya saat mengikuti Pameran UMKM beberapa waktu lalu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TERUS DIBURU : Abdulah, salah satu pedagang batu akik sedang memeriksa dagangannya saat mengikuti Pameran UMKM beberapa waktu lalu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Di saat euforia batu akik terjadi, Gubernur Jateng akan menata berbagai aktivitas penambangan bahan mineral tersebut. Regulasi akan segera disusun oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Jika tidak segera diterbitkan, dikhawatirkan akan banyak penambang liar yang merusak ekosistem mineral.

Sekretaris Dinas ESDM Jateng Achmad Gunawan menerangkan, sebenarnya sudah ada izin mengenai penambangan mineral. Tidak hanya bagi penambangan menggunakan alat berat saja, yang tradisional pun juga ada izinnya. “Semua harus mengacu pada peraturan mineral dan batubara (minerba) tentang pengelolaan mineral secara umum,” katanya, kemarin.

Jika menggali daerah-daerah yang tidak memnuhi kriteria, akan terjadi perubahan rona morpologi yang bisa menimbulkan kubangan berbahaya. Jika tidak direklamasi, kubangan itu bisa menyebabkan tanah longsor. Bagi penambang tradisional, lanjutnya, tetap harus ada pengawasan dari pemerintah setempat. Seperti tidak boleh menggunakan bahan peledak, atau hanya berhak ditambang oleh warga setempat. “Yang selama ini jadi salah kaprah adalah, deposit tambang mineral di suatu daerah justru digali oleh warga dari daerah lain. Ini yang kami sebut sebagai penambang ilegal,” ungkapnya.

Di Jateng lanjut Achmad, memang banyak potensi batu mineral yang bagus untuk dijadikan akik. Terutama di daerah Purbalingga, jenis-jenis yang wajar dicari adalah jasper, kristak kuarsa, opal, kasedon, chert, krisoparse, kayi terkesikan (fosil kayu) garent, giok, agat, hingga topaz. “Jenis mineral tersebut banyak ditemukan di singkapan-singkapan sebagai endapan sekunder sungai. Karena itu, banyak penambang mineral yang mencari lahan di daerah bekas sungai karena tidak perlu menggali dalam-dalam,” paparnya.

Kepala Seksi Managemen Aset dan Perizinan Dinas PSDA Jateng Ketut Artana menuturkan, di awal tahun ini, sudah ada empat surat permohonan untuk penambangan di Sungai Bodri, Kabupaten Kendal.

Menurutnya, sungai itu memang kaya mineral dan material. Tidak jarang penambang yang mengajikan izin untuk memanen deposit di sana. “Karena banyaknya penambang, penambangan di Sungai Bodri sempat dihentikan. Morpologinya mulai rusak. Kalau ditambang terus, akan terjadi degradasi sungai karena tebing di sisi sungai mulai terkikis,” ungkapnya.

Pihaknya menambahkan, area yang boleh ditambang adalah sungai-sungai yang sudah banyak menyimpan deposit material. Jika tidak dikeruk, justru akan menyebabkan pendangkalan sungai. “Biasanya, material akan menumpuk di tikungan-tikungan dalam sungai yang berkelok. Atau pulau-pulau di dalam yang terjadi karena endapan mineral,” pungkasnya. (amh/ric)