BAHAYA : Hujan membuat sungai Progo meluap dan nyaris memutus jalan desa di Kecamatan Windusari, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
BAHAYA : Hujan membuat sungai Progo meluap dan nyaris memutus jalan desa di Kecamatan Windusari, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
BAHAYA : Hujan membuat sungai Progo meluap dan nyaris memutus jalan desa di Kecamatan Windusari, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Intensitas hujan yang masih sangat tinggi membuat Kali Progo di wilayah Kabupaten Magelang meluap. Air bahkan sempat merendam sebagian Dusun Sampang Desa Gondangrejo Kecamatan Windusari.

Akibatnya warga terpaksa harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Luapan air ini kemudian mengakibatkan tebing di pinggir sungai juga ambrol.

Padahal, di atas tebing setinggi 6 meter itu terdapat jalan desa. Akibatnya jalan sepanjang 40 meter dengan lebar 3 meter terkena longsor. “Jalan desa sudah tergerus hampir separo,” kata Budi Hartono, 35, warga setempat.

Tidak hanya itu, tergerusnya tebing di pinggir sungai mengancam 23 rumah yang berpenghuni sekitar 43 jiwa. Satu bangunan diantaranya masjid. “Sebelum longsor, jalan mengalami retak terlebih dahulu. Aliran air hujan yang turun cukup deras lalu masuk ke dalam rekahan,” ujar dia.

Kepala Desa Gondangsari Sukamto, 43, menjelaskan, akibat tanah longsor ini setidaknya ada sekitar 23 rumah yang berpenghuni sekitar 43 jiwa dalam kondisi terancam longsor susulan. Mereka tersebar di RT 1 Dusun Sampang yang mengancam 18 rumah berpenghuni sekitar 27 jiwa dan di RT 4 mengancam 5 rumah berpenghuni 16 jiwa.

Dari jumlah itu, kini ada dua keluarga terpaksa harus mengungsi sementara. Mereka tidak diperbolehkan menempati rumahnya saat hujan deras maupun ketika malam hari.

Enam rumah yang berdampak langsung itu hanya berjarak sekitar tiga meter dari tanah longsor. “Memang sebelum longsor, dua minggu yang lalu jalan sudah retak-retak. Desa juga sudah melaporkan peristiwa ini ke Bupati tetapi karena faktor cuaca jadi belum ditangani,” jelasnya.

Ia berharap Pemkab Magelang segera melakukan penanganan. Terutama jalan yang nyaris putus. “Dari sekitar 5 ribu warga kami, 60 persennya bekerja di Kota Magelang dan melewati jalan itu. Jika sampai muncul longsor susulan maka warga terpaksa harus memutar sejauh 7 kilometer melewati jalan Payaman – Widusari,” ungkapnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo menyampaikan, keenam rumah yang berada persis di tebing longsoran itu milik Budi Hartono, Asnawi, Sumadi, Hadi Suroso, Pardi dan Aziz. Pemkab Magelang sudah meninjau lokasi longsoran dan memberikan bantuan logistik ke pemerintah desa setempat.

Sementara itu dari Purworejo dilaporkan, sedikitnya 11 rumah di kawasan lereng perbukitan Menoreh, terancam tanah longsor. Lebih tepatnya, rumah-rumah warga yang berada di wilayah RT 1 RW 2 Dusun Jogowono, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing. Di wilayah itu, pergerakan tanah sudah dirasakan warga sejak tiga tahun terakhir.

Sebelumnya, fenomena alam itu, sudah mengakibatkan dua rumah warga mengalami kerusakan. Satu di antaranya bahkan sudah ditinggalkan pemiliknya.

Warga mengatakan, pergerakan tanah dirasakan setiap awal musim hujan. Utamanya, ketika curah hujan tinggi. Kali terakhir, pergerakan tanah terdeteksi bersamaan dengan peristiwa longsor tebing jalan di Lemah Biru. Yakni, jalan utama menuju Gua Seplawan.

Akibat pergerakan tanah tersebut, rumah milik Sukur, rusak di bagian dapur dan kamar mandi. Saat ini, warga yang rumahnya terancam mengaku waswas setiap hujan deras mengguyur dalam waktu cukup lama. Mereka khawatir terjadi pergerakan tanah yang bisa memicu longsoran. (vie/jpnn/ton)