Akan Digabungkan Pemakaian Bahasa Jawa

148
ADAT JAWA: Sejumlah PNS Pemprov Jateng mengenakan pakaian adat Jawa Senin (16/3). Uji coba penerapan kebijakan tersebut dilakukan untuk kali kedua, kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
ADAT JAWA: Sejumlah PNS Pemprov Jateng mengenakan pakaian adat Jawa Senin (16/3). Uji coba penerapan kebijakan tersebut dilakukan untuk kali kedua, kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
ADAT JAWA: Sejumlah PNS Pemprov Jateng mengenakan pakaian adat Jawa Senin (16/3). Uji coba penerapan kebijakan tersebut dilakukan untuk kali kedua, kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menerapkan uji coba kali kedua untuk kebijakan penggunaan pakaian adat Jawa, Senin (16/3). Kebijakan tersebut diklaim telah berjalan maksimal. Pasalnya, perlahan mulai diterima dan dilaksanakan para pegawai negeri sipil (PNS) dengan baik.

”Alhamdulillah, mereka sangat enjoy melaksanakannya. Mereka merasa punya kebanggaan tersendiri mengenakan pakaian tradisional yang selama ini jarang dipakai,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng Sri Puryono ditemui usai apel pagi bersama seluruh pegawai di lingkungan Pemprov Jateng, Senin (16/3).

Atas hal tersebut, Sri mengaku akan segera menggabungkan penggunaan pakaian adat dengan kebijakan penggunaan bahasa Jawa yang telah ditetapkan sebelumnya yakni setiap hari Kamis. Sehingga upaya nguri-uri adat dan budaya Jawa Tengah menjadi lebih maksimal. ”Jika selama ini penggunaan pakaian adat tiap tanggal 15, nanti diubah tiap minggu kedua di hari Kamis,” imbuhnya.

Kendati demikian, Sri mengaku masih butuh waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan evaluasi. Sebab, kebijakan tersebut diketahui baru dilaksanakan dua kali. Sehingga jika nanti benar-benar diwajibkan, maka akan ada aturan yang mengikat dan sanksi yang tegas. ”Untuk penggunaan pakaian adat mendatang, masih tanggal 15 (April),” tandasnya.

Berdasarkan pantauan Radar Semarang di lokasi, tampak seluruh pegawai di lingkungan pemprov telah mengenakan pakaian adat Jawa dengan berbagai jenisnya. Misalnya beskap, sorjan, dan juga pakaian adat masyarakat Samin yang serbahitam. Hanya saja, masih ada beberapa yang belum secara total mengenakannya. Seperti ada yang masih memakai sepatu pantofel menggantikan sandal selop sebagaimana mestinya. (fai/ric/ce1)