SADIS: Kawanan begal remaja yang diamankan aparat Polsek Pedurungan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
SADIS: Kawanan begal remaja yang diamankan aparat Polsek Pedurungan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
SADIS: Kawanan begal remaja yang diamankan aparat Polsek Pedurungan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Sepuluh dari sebelas begal jalanan berusia belasan tahun berhasil dibekuk aparat Polsek Pedurungan Semarang. Ironisnya, beberapa di antara mereka masih berstatus pelajar SMK. Mereka adalah TP, 17; F, 16; MAS, 18; MUN, 15; DW, 16; HAR, 16; SN, 17; RH, 14, dan AR, 17, semuanya warga Kecamatan Mranggen, Demak. Tersangka lainnya AS, 17, warga Sayung, Demak. Sedangkan tersangka yang masih buron berinisial IND.

”Mereka ini begal jalanan yang sangat sadis. Tanpa babibu langsung membacok korbannya. Ada 10 pelaku yang kami tangkap, seorang lagi masih buron. Semuanya berusia belasan tahun, antara 14-18 tahun. Empat pelaku masih berstatus pelajar,” beber Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono di Mapolrestabes Semarang, Senin (16/3).

Dalam aksinya, mereka saling berbagi tugas. Tersangka SN berperan membacok menggunakan celurit ke arah punggung korban. Tersangka RH membacok menggunakan parang pendek mengenai tangan kiri korban. Sedangkan tersangka AR, membacok korban dengan sebilah parang panjang, yang mengenai kepala korban lalu mengambil handphone merek Mito warna putih.

Sementara tersangka AS memukul korban ke arah kepala menggunakan gir sepeda onthel yang diikatkan sabuk. ”Berdasarkan hasil pemeriksaan, mereka telah beraksi di 16 TKP (tempat kejadian perkara) di Demak dan Semarang. Mereka main cepat dengan langsung membacok korbannya,” terang Djihartono.

Dijelaskannya, mereka diringkus setelah aksi terakhir di depan musala Jalan Kyai Morang, Penggaron Kidul, Kecamatan Penggaron, Semarang, pada Minggu (15/3) sekitar 01.00. Korbannya, remaja berinisial NH, 18, warga Pedurungan, Semarang. Selain menderita luka bacok di kepala sebanyak tiga bagian dan di jari tangan, kawanan pelaku juga merampas 1 unit handphone merek Mito. ”Korban sempat dirawat di RS Pelita Anugerah, Mranggen, Demak, dan mendapat sebanyak 25 jahitan atas luka bacok tersebut,” ujarnya.

Djihartono mengaku, tak akan pandang bulu, dan akan menindak tegas terhadap pelaku pembegalan. ”Meski masih di bawah umur, semuanya tetap ditahan dan menjalani proses hukum seperti yang berlaku. Mereka bisa ditahan, mengingat ancaman hukumannya di atas 7 tahun, dan telah berulang kali melakukan aksi,” katanya.

Tersangka AR mengaku, sebelum beraksi, semuanya berjumlah 11 orang berkumpul di rumahnya sembari pesta minuman keras (miras) jenis ciu. ”Kemudian kami keluar bersama-sama berboncengan mengendarai empat motor, yakni Yamaha Jupiter dan tiga motor Honda Supra 125, untuk mencari angin,” ujarnya.

Sesampai di daerah Patung Kuda di perumahan daerah Horison Demak, kawanan pelaku ini melakukan pengeroyokan, lalu melakukan ampresen di jembatan layang Genuk. Setelah itu, mereka membeli bensin di SPBU Wolter Monginsidi.

Tidak hanya itu, di daerah Perumahan Klipang, Tembalang, mereka melakukan pemukulan terhadap dua orang. Bahkan berlanjut sampai di jembatan Penggaron kembali melakukan pemukulan terhadap dua orang tak dikenal, dan merusak motor korban.

Terakhir, mereka melakukan pengeroyokan di depan musala Kiai Morang, Penggaron Kidul, Kecamatan Pedurungan, Semarang. Korban saat itu sedang perjalanan pulang ke rumah. ”Kami langsung memepet dan menghadangnya,” katanya.

Tanpa banyak cingcong, korban langsung dibacok mengenai bagian kepala dan tangan. Setelah itu, handphone milik korban dirampas pelaku. ”Hanya iseng ikut-ikutan teman. Uangnya saya gunakan untuk jajan,” ujarnya.

Tersangka lain, AS, mengaku, ikut kawanan begal ini hanya mencari hiburan semata. ”Saya cuma ikut-ikutan. Cari hiburan saja kok,” ujarnya tanpa merasa bersalah. Para tersangka dijerat pasal 365 KUHP tentang kekerasan dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. (amu/aro/ce1)