RAMAH LINGKUNGAN : Aktivitas warga di bank sampah Makmur RT 3 RW 4 di kelurahan Blotongan. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
RAMAH LINGKUNGAN : Aktivitas warga di bank sampah Makmur RT 3 RW 4 di kelurahan Blotongan. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
RAMAH LINGKUNGAN : Aktivitas warga di bank sampah Makmur RT 3 RW 4 di kelurahan Blotongan. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)

Daur ulang sampah merupakan sesuatu yang sudah jamak dilakukan pemerhati lingkungan. Tetapi diantara para pendaur ulang, kegiatan bank sampah Makmur yang berada di RT 3, RW 4 Ngampel, Blotongan patut diacungi jempol. Saban hari, hanya sekitar 10 persen sampah rumah tangga yang benar –benar terbuang.

Dhinar Sasongko, Salatiga

Tidak sulit mencari lokasi bank sampah Makmur. Lokasinya berada di tepi jalan raya Salatiga – Bawen. Spanduk gudang bank sampah terpajang di sebuah bangunan. Sementara di beberapa rumah belakang, banyak terpasang spanduk mengenai aktifitas pengelolaan sampah.

Sugito, 45, tukang pengambil sampah di RT tersebut merupakan salah satu pelopor pengelolaan bank sampah di wilayahnya. Saban hari ia mengambil sampah dari 79 KK yang ada di RT tersebut. Rata – rata 80- 90 kilogram sampah diangkut dengan menggunakan gerobag dorong.

“Kalau semua sampah sudah terkumpul, kita turunkan di bank sampah dan kemudian dipilah antara sampah organik dan anorganik,” kata Sugito yang menjadi penarik sampah menggantikan orang tuanya.

Sampah yang datang kemudian dibagi. Sampah organik diolah menjadi kompos di lahan yang sudah tersedia. Untuk mematangkan kompos dibutuhkan waktu 2 bulanan dan akhirnya dijual dengan harga Rp 1000 per kilo. “Konsumen tetapnya adalah 3 Kelompok rumah pangan lestari (KRPL),” imbuhnya.

Dengan komposisi 2 kompos, 2 sekam dan 1 tanah, berbagai tanaman yang ada di KRPL menjadi subur. Penanaman pun menggunakan polibag yang tidak membeli melainkan menggunakan spanduk MMT bekas yang dibuang.

Sementara itu, barang – barang anorganik dikumpulkan menjadi satu kemudian diserahkan di divisi pemberdayaan. Dari divisi ini, berbagai barang yang terbuang diolah menjadi berbagai miniatur seperti mobil, rumah dan hiasan lainnya. Tidak lupa berbagai barang pecah seperti gelas, botol dan sebagainya pun bisa dikreasikan menjad hiasan menarik.

“Ada botol, gelas kaca, dan berbagai barang lain yang bisa dibuat untuk kreasi hiasan. Biasanya sehari bisa menyelesaikan satu hiasan tetapi juga bergantung kepada mood,” terang Kumedi, ketua divisi pemberdayaan saat ditemui.

Hasilnya pun lumayan. Berbagai barang yang dihasilkannya bisa dijual dengan harga 150 – 250 ribu per biji. Bakan mereka juga membuat baju berbahan daur ulang. Ia menyatakan tekadnya dengan kegiatan yang dijalankannya yakni jangan sampai anak cucu tidur diatas sampah. “Kalau secara teknik, tidak terlalu banyak kesulitan tetapi kami butuh modal agar lebih berkembang,” imbuhnya.

Sementara ketua RT 3 Juhardi menjelaskan jika kegiatan ini sudah didukung bulat oleh semua warganya. Menurutnya, berbagai kegiatan ini menunjukkan kerukunan dan keinginan warga untuk mengelola sampah menjadi lebih bermanfaat. (*/fth)