BANJIR LAGI: Jalan protokol Kota Kendal yang kembali terendam banjir sedalam 50 sentimeter hingga membuat aktivitas warga dan arus lalulintas terhambat. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
BANJIR LAGI: Jalan protokol Kota Kendal yang kembali terendam banjir sedalam 50 sentimeter hingga  membuat aktivitas warga dan arus lalulintas terhambat. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
BANJIR LAGI: Jalan protokol Kota Kendal yang kembali terendam banjir sedalam 50 sentimeter hingga membuat aktivitas warga dan arus lalulintas terhambat. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Banjir kembali menghampiri warga Kecamatan Kota Kendal. Ratusan rumah terendam banjir setelah hujan deras mengguyur Kendal sejak Jumat (13/3) malam lalu. Banjir setinggi 50 sentimeter yang menggenangi permukiman warga dan kantor Bupati Kendal tersebut berasal dari luapan Sungai Kendal. Banjir baru surut pada Sabtu (14/3) malam.

Ironisnya, meski kawasan yang direndam banjir adalah jantung Kota Kendal sekaligus pusat pemerintahan, tapi hingga kini belum ada tindakan konkrit dari Pemkab Kendal. Alhasil, bencana banjir pun terus menghantui warga yang tinggal di Kelurahan Pekauman, Patukanan, Pegulon, Ngilir, Balok, Kebondalem dan Bandengan, Kecamatan Kota Kendal.

Arif Prahayoga, 30, warga Ngilir, mengatakan, banjir kemarin merupakan kejadian kali kedua di bulan Maret. Diakuinya, banjir membuat aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Kendal terganggu.

“Sabtu dinihari sekitar pukul 03.00, air mulai menggenangi, tapi belum terlalu tinggi. Tapi, Sabtu pagi hingga siang, genangan air semakin tinggi. Padahal kondisinya sudah tidak hujan, bahkan antara sungai dan jalan sama rata tertutup air. Warga pun takut untuk keluar rumah,” katanya kepada Radar Semarang.

Banjir mulai masuk ke perkampungan warga Sabtu sore mencapai setinggi 50 sentimeter. Warga pun menyedot menggunakan mesin pompa untuk mengurangi ketinggian air ke rumah. Namun hal itu sia-sia karena air yang masuk lebih kencang dari pada kekuatan pompa air milik warga.

“Yang kami sesalkan, meski sudah berkali-kali dilanda banjir, tapi belum ada tindakan dari pemerintah setempat untuk mencegah banjir. Kesannya, malah pemerintah hanya berpangku tangan dengan bencana yang melanda warga,” keluh Abdul Rochim, warga lainnya.

Abdul Rochim mencontohkan, keberadaan Sungai Kendal yang mulai dangkal, namun pemerintah tak segera melakukan normalisasi. Akibatnya, jika hujan deras, air cepat meluap ke permukiman warga.

Banjir akibat luapan Sungai Kendal kemarin juga menggenangi jalur Pantura Kendal. Kendaraan yang melintas harus ekstra hati-hati menghindari genangan air yang cukup tinggi. Akibatnya, arus lalu lintas sempat tersendat.

Banjir kemarin juga melanda wilayah Kecamatan Bransong. Tak sedikit rumah warga yang terendam banjir akibat luapan Sungai Blorong. Bahkan sampai kemarin, tanggul darurat Sungai Blorong di Desa Tunggulsari belum juga dibuat permanen. Hal ini membuat warga khawatir, jika hujan deras tanggul bakal jebol seperti peristiwa banjir pada 2013 silam.

“Saat ini kondisinya sudah mulai merembas dan mengaliri rumah warga. Volume sungai terus naik, maka bisa jebol,” ujar Wahyudi, warga Brangsong.

Kepala Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, Paul Robinson Simamora mengatakan, hujan deras yang membuat debit air di wilayah Bendungan Trompo meluap. Dikhawatirkan tanggul bakal jebol, terpaksa sebagian air dialirkan ke Sungai Kendal.

“Meski ini keputusan buruk, karena risiko ratusan rumah tergenang banjir, tapi ini adalah satu-satunya langkah yang bisa kami lalukan agar Bendungan Trompo tidak meluap,” tandasnya.

Dijelaskannya, jika penjaga pintu di Bendungan Trompo tidak berani membuang air ke pintu kanan atau kiri, maka akan berbenturan dengan petani mengingat banyak sawah yang dialiri saluran tersebut. Air itu, menurutnya, kiriman dari wilayah Kendal bagian atas.

Meski demikian, diakuinya, anggaran normalisasi sungai baru bisa dilakukan pada 2016. Sebab, tahun ini tidak ada anggaran untuk normalisasi APBD 2015 maupun di perubahan.

Sedangkan untuk tanggul darurat di Sungai Blorong, diakui, sudah ada yang jebol. Selain itu, tanggul darurat jebol juga terjadi di Sungai Bodri. Hal itu lantaran tanggul darurat hanya menggunakan tumpukan tanah dalam karung yang kemudian diberi pengaman dengan tanaman bambu. (bud/aro)