UNGARAN-Nasib tiga siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) juara olimpiade sains nasional (OSN) sungguh apes. Setelah gagal masuk ajang OSN tingkat Provinsi Jateng lantaran terganjal regulasi, kini hampir saja kena tipu.

Pasalnya, ada pihak yang mengaku dari Kementerian Agama (Kemenag) RI, meminta para siswa dan guru tersebut ke Jakarta untuk mengurus masalah tersebut. Namun setelah ditelusuri, diduga kuat kabar tersebut penipuan. Sehingga para siswa yang juara dan guru pembimbingnya tidak berangkat ke Jakarta.

Menurut Kepala MI Al Bidayah, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Kholid Mawardi, pihaknya mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku dari Kemenag Jakarta. Oknum tersebut, meminta para siswa MI yang gagal masuk OSN tingkat Provinsi Jateng berangkat ke Jakarta. Janjinya untuk mengurus agar dapat ikut OSN Provinsi. Tetapi kabar tersebut tidak langsung ditanggapi karena diduga mengada-ada.

“Penelepon mengaku dari Kemenag Jakarta minta anak-anak dan guru pembimbingnya ke Jakarta Kamis sore (12/3). Penelepon menjanjikan akan menjemputnya di Stasiun Gambir,” kata Kholid, Jumat (13/3) kemarin.

Hal senada dikatakan Kepala MI Wonokasihan, Kecamatan Jambu, Tohir, pihaknya juga ditelepon seseorang mengaku dari Kemenag Jakarta yang intinya meminta satu siswanya yang menjuarai OSN datang ke Jakarta. Pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Kemenag Provinsi Jateng maupun Kabupaten Semarang. Ternyata tidak ada tembusan kabar tentang agenda kegiatan di Kemenag Pusat. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai agenda kegiatan di Jakarta tersebut.

“Bisa jadi yang menelepon itu dari Kemenag Pusat atau Dinas Pendidikan, bahkan bisa saja itu ulah orang iseng. Sampai saat ini belum ada kabarnya, sehingga kami tidak jadi berangkat,” tutur Tohir.

Ditambahkan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Semarang, Muhtadi, pihaknya sudah melakukan pengecekan tentang adanya telepon dari seseorang yang meminta datang ke Jakarta. Tetapi sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan tembusan agenda tersebut dari Kemenag pusat maupun wilayah. “Sudah ada laporan dari MI, kami sendiri belum tahu persis, siapa penelpon tersebut,” tutur Muhtadi. (tyo/ida)