Resmi Tersangka, AKP Hadi Ditahan di Mapolda

127
MEMBANTAH: Pengacara AKP Hadi saat memberikan keterangan pers kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
MEMBANTAH: Pengacara AKP Hadi saat memberikan keterangan pers kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
MEMBANTAH: Pengacara AKP Hadi saat memberikan keterangan pers kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

MUGASSARI – Setelah menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng sejak Kamis (12/3) pukul 20.00 hingga Jumat (13/3) siang, mantan Wakapolsek Gunungpati AKP Hadi langsung ditetapkan sebagai tersangka. Saat ini, AKP Hadi mendekam di sel tahanan Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti) Polda Jateng.

Dia ditetapkan tersangka atas tindak pidana pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan disertai ancaman, dengan ancaman hukuman pidana 1 tahun dan pasal 406 KUHP dengan ancaman pidana 2 tahun 8 bulan penjara. ”Sudah di sel Mapolda Jateng,” kata Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Aloysius Liliek Darmanto kepada Radar Semarang, Jumat (13/3).

Dijelaskan Liliek, AKP Hadi setelah menjalani pemeriksaan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng langsung ditetapkan sebagai tersangka. ”Sudah tersangka, wong sudah begitu, merusak, mengancam,” ujarnya.

Pihaknya fokus ke tindak pidana terlebih dahulu. Proses hukum akan diselesaikan hingga memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht). Setelah itu, AKP Hadi baru akan menjalani proses kode etik di intern Polri terkait sanksi disiplin.

AKP Hadi sendiri menyatakan protes terkait pemberitaan yang menyebut mengancam menggunakan senjata tajam jenis parang. Senjata atau alat yang digunakan disebutnya sosrok atau alat pembersih got.

”Ini klarifikasi bahwa alat yang digunakan oleh AKP Hadi bukan parang tapi sosrok, atau alat untuk membersihkan selokan,” terang kuasa hukum AKP Hadi, Much Chlizin, kepada Radar Semarang di Mapolda Jateng, kemarin.

Much Chlizin membenarkan, bahwa AKP Hadi saat kejadian tersebut dalam pengaruh minuman keras jenis congyang. ”Biasanya pakai PK (pemandu karaoke) dari tempat karaoke setempat, tapi ini AKP Hadi bawa dua SPG dari luar. Pihak karaoke menagih uang pembayaran, padahal jam belum habis. Sehingga AKP Hadi tersinggung,” bebernya.

Terkait penyekapan terhadap dua wanita SPG juga dibantah. ”Tidak ada, tidak ada penyekapan,” ujarnya.

Begitu pun saat AKP Hadi marah-marah dan melakukan perusakan di Mapolsek Gunungpati, juga dilatarbelakangi rasa tersinggung. ”Dia dibilang membikin onar di tempat karaoke, lalu tersinggung sama kapolsek. AKP Hadi merasa tidak diuwongke hingga kemudian marah dengan menggebrak mobil kapolsek,” imbuhnya.

Terkait proses hukum yang sedang berjalan, pihaknya menjamin kliennya kooperatif. AKP Hadi sendiri dalam kondisi sehat. ”Rambutnya sudah potong plontos dan cukur kumis,” katanya.

Pihaknya mengaku akan mengajukan penangguhan penahanan terhadap AKP Hadi. Sebab, penangguhan penahanan itu hak setiap tersangka. Namun demikian, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik Polda Jateng dengan dasar keadilan. ”Kami mengajukan penangguhan penahanan. Soal dikabulkan atau tidak, itu hak penyidik dan klien kami akan tetap taat hukum,” ujarnya.

Much Chlizin menegaskan, AKP Hadi secara pribadi telah meminta permintaan maaf kepada Kapolsek Gunungpati Kompol Ahmadi. ”Sudah meminta maaf kepada kapolsek melalui telepon. Bahkan istrinya juga menelepon kepada kapolsek untuk meminta maaf. Kapolsek sendiri sudah memaafkan,” katanya.

Dia menyebut, AKP Hadi menyatakan khilaf telah melakukan kesalahan akibat terpengaruh minuman keras. ”Iya, memang dalam kondisi mabuk. Dia khilaf,” imbuhnya.

Hubungan antara Kapolsek Kompol Ahmadi dengan AKP Hadi sebelumnya juga baik-baik saja. Tidak ada masalah. Kondisi kerja juga bagus, bahkan sejumlah program kerja dilaksanakan bersama-sama secara maksimal. ”Hingga saat ini, dia masih shock. Malu sama anak istri,” katanya.

Selama berstatus buron 17 hari, AKP Hadi bersembunyi di sebuah rumah kos di daerah Kalibanteng, Semarang Barat. ”Dia kos sendirian. Tidak luar kota, hanya di Semarang aja,” imbuhnya.

AKP Hadi juga telah menjalani tes urine di RS Bhayangkara, untuk memastikan apakah dalam pengaruh narkoba atau tidak. ”Hasil tes urine negatif,” katanya.

Sebelumnya, AKP Hadi kabur selama 24 hari, terhitung sejak Senin (16/2) pasca mengamuk di Karaoke Cafe & Resto Kumala Asri dan Mapolsek Gunungpati Semarang, serta nyaris menggorok leher Kapolsek Kompol Ahmadi. Namun sejak surat penetapan DPO pada Jumat (27/2), AKP Hadi terhitung 17 hari tidak menjalankan tugas sebagai anggota Polri. Hadi kemudian menyerahkan diri di Mapolrestabes Semarang, Rabu (11/3) sekitar pukul 22.15, ditemani anak, istri, dan menantunya yang juga anggota polisi di Sabhara Polrestabes Semarang.

AKP Hadi sengaja menyerahkan diri karena tertekan dan ketakutan, sebelum 30 hari tidak masuk tugas. Sebab, jika 30 hari tidak masuk tugas, ia secara otomatis berstatus sebagai desersi dan langsung bisa dikenai sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH). (amu/aro/ce1)