SEDERHANA: Suharno di kantornya, PD BKK Pringsurat. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
SEDERHANA: Suharno di kantornya, PD BKK Pringsurat. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
SEDERHANA: Suharno di kantornya, PD BKK Pringsurat. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)

Pengalaman masa kecil seringkali berpengaruh dalam tingkah laku ketika dewasa. Suharno yang biasa hidup sederhana, tidak berubah ketika meraih kesuksesan. Seperti apa?

ISSATUL HANI’AH, Temanggung

Sederhana dan tidak bermewah-mewahan adalah nilai-nilai kehidupan yang sangat jarang dipegang oleh seseorang. Ketika seseorang sudah mencapai posisi tinggi dalam pekerjaan, hal ini sering berimbas pula pada perubahan gaya hidup. Namun perubahan ini tak berlaku bagi Suharno. Direktur Utama PD BKK Pringsurat ini malah santai saja menjalani hidup dengan sederhana.

Harno menceritakan, masa kecilnya dilakoni dengan sangat ceria di Klaten. Harno lahir dari keluarga besar dengan jumlah saudara yang banyak. Harno merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Selisih usia antarsaudara hanya dua tahun sementara orangtua adalah pegawai negeri. Bisa dibayangkan orangtua Harno saat itu repot sekali membiayai sekolah saudara-saudaranya.

“Saya itu dari kecil sudah biasa ke sawah. Mulai SMP saja saya biasa disuruh orang untuk nyemprot sawah. Habis itu saya dapat upah uang. Senang sekali waktu itu. Bisa buat jajan kan?” tuturnya mengisahkan masa kecil.

Selain menyemprotkan obat pertanian di sawah, Harno juga biasa ngarit, mencari rumput. Sehari dua kali, Harno harus mencari rumput untuk pakan kerbau-kerbau milik pamannya. Jika tidak melakukan hal ini, Harno tak dapat memiliki uang jajan.

Mungkin pengalaman masa kecil tersebut akhirnya membentuk karakter Harno menjadi pribadi yang sederhana. Bahkan ketika kini menjabat direktur utama sekalipun, Harno tetap tidak menyukai gaya hidup neko-neko. Tak merokok, tak juga menyukai kopi atau teh. Di meja kerjanya, karyawan bahkan tahu agar setiap pagi menyediakan segelas besar air putih. Kopi dan teh hanya sesekali saja.

“Kalau merokok ya pernah. Terakhir kayaknya SMA. Setelah itu kayaknya enggak pernah lagi,” katanya.

Hal ini juga ternyata menurun pada kedua anak lelakinya. Harno mengatakan kedua anaknya ternyata sama seperti bapaknya, tidak begitu menyukai gaya hidup hedonis. Kedua anaknya jauh dari rumah dan sudah memasuki bangku kuliah.
“Pernah saya suruh anak-anak bawa mobil buat kuliah. Barangkali mereka pengen, tapi malah katanya gak suka. Enak pakai motor saja. Ya saya kaget. Kok anak saya pikirannya sama kayak saya waktu muda,” jelasnya.

Di usianya yang hampir memasuki setengah abad, Harno ingin sekali mendedikasikan diri untuk membesarkan BKK Pringsurat. Ia berharap bank-nya dapat berkontribusi bagi pemerintah untuk memajukan perekonomian kalangan pengusaha mikro, kecil dan menengah di Temanggung.

Tak sia-sia, dua tahun berturut-turut, banknya memperoleh penghargaan dari Gubernur Jateng. BKK Pringsurat menjadi juara 3 kategori mendukung pencapaian visi dan misi Gubernur Jateng tahun 2013 dan 2014.

“Harapannya tahun ini semoga paling tidak mempertahankan posisi. Karena banyak sekali saingan-saingannya. Syukur-syukur meningkat jadi juara 1 atau 2,” harapnya. (*/ton)