Biayanya Murah dan Mudah Dipasang

237
KURANGI PENCEMARAN : Muhammad Husain, warga Krapyak Kidul Gang 4 RT 01 RW 01 Pekalongan Utara menunjukkan IPAL Rumah Tangga yang ramah lingkungan. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
KURANGI PENCEMARAN : Muhammad Husain, warga Krapyak Kidul Gang 4 RT 01 RW 01 Pekalongan Utara menunjukkan IPAL Rumah Tangga yang ramah lingkungan. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
KURANGI PENCEMARAN : Muhammad Husain, warga Krapyak Kidul Gang 4 RT 01 RW 01 Pekalongan Utara menunjukkan IPAL Rumah Tangga yang ramah lingkungan. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)

Tim Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Kota Pekalongan dari Krapyak Kidul Gang 4 RT 01 RW 01 Pekalongan Utara menciptakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) rumah tangga atau septic tank, yang mudah dan murah. Bahkan lebih ramah lingkungan, lebih bersih dan terbebas dari bakteri e-coli. Seperti apa?

LUTFI HANAFI, Pekalongan

MUNCULNYA ide, memang tidak jauh dari pengalaman hidup. Hal itu pula yang dirasakan Muhammad Husain, warga Krapyak Kidul Gang 4 RT 01 RW 01 Pekalongan Utara, yang kerap melakukan perjalanan ke luar Pulau Jawa. Tepatnya saat melakukan perjalanan di daerah Kalimantan yang daerahnya banyak rawa-rawa dan sungai. Di daerah tersebut, ternyata masing-masing penduduknya menyediakan IPAL Rumah Tangga dengan menyediakan drum plastik besar yang harganya mahal.

Dalam benaknya pun mencuat, kondisi wilayah tersebut hampir serupa dengan beberapa wilayah di tempat tinggalnya di Kota Pekalongan. “Akhirnya muncul ide untuk diterapkan di Kota Pekalongan. Kenapa tidak menggunakan drum bekas plastik kemasan obat saja? Yakni, drum yang kerap digunakan nelayan untuk menyimpan ikan. Setelah saya teliti ternyata bagus, kuat dan murah,” ucap Husain yang ditemui di rumahnya Krapyak Kidul Gang 4 RT 01 RW 01 Pekalongan Utara Kota Pekalongan.

Apalagi, kata Husain, plastik drum bekas tersebut sudah standar internasional dan sangat kuat. “Saya yakin, drum plastik sangat kuat. Logika sederhananya, plastik tipis saja puluhan tahun tidak terurai. Apalagi drum plastik bekas. Bahkan kerap digunakan untuk mengirim ikan yang sudah berstandar ekspor. Sudah teruji keamanannya dan tahan lama,” jelas Husain.

Makanya, IPAL Rumah Tangga ini bisa dibuat dengan mudah dan murah dengan teknologi sederhana. Bahan bakunya berupa 3 drum plastik bekas ukuran 200 liter, tali tambang, dan dua kaleng cat plastik ukuran 5 kg serta beberapa meter pipa PVC sesuai kebutuhan. Nantinya semua alat bisa ditanam atau diapungkan di atas sungai.

Ketiga drum besar dihubungkan satu sama lain dengan pipa PVC. Drum plastik pertama yang menerima buangan pertama dari WC maupun buangan dari rumah tangga lainnya, diberikan alat berupa penyaringan. Yang terbuat dari dua kaleng bekas cat ukuran 5 kg yang sudah dirajut tali tambang plastik sesuai pola jaring di dalamnya. Saat buangan pertama kali masuk ke dalam kaleng plastik kecil, yang berfungsi menghancurkan kotoran buangan dari WC.

Cara kerjanya, saat air buangan ke drum pertama akan diolah dengan dihancurkan. Setelah cairan tercampur air, akan menuju drum kedua untuk proses pengendapan dan fermentasi alami. Saat di drum ketiga, air buangan sudah cukup aman untuk disalurkan ke sungai atau selokan.

“Dengan teknik tersebut, ternyata cukup efektif untuk mengurangi kandungan bakteri e-coli di limbah rumah tangga. Sehingga sungai maupun saluran air akan terbebas dari bakteri yang membuat perut mules tersebut,” ucap Husain.

Salah satu pengguna teknologi tersebut Sakban, 36, warga Krapyak Kidul gang 5. Dia mengngkapkan bahwa sudah 2 tahun lebih, dirinya tidak pernah ada masalah dengan teknologi IPAL tersebut. “Keluarnya air sebelum saya buang ke selokan lebih bersih. Teknologi ini juga ramah lingkungan dan murah dibanding pakai IPAL kubangan dari semen dan batu bata, yang bisa jutaan rupiah,” ucap dia.

Dijelaskan Sakban, untuk biaya yang dikeluarkan saat dirinya membuat dulu, hanya biaya membeli drum plastik bekas, @ Rp 125 ribu 3 tabung. “Total semua tabung, pipa paralon, kloset dan biaya pemasangan hanya Rp750 ribu. Lebih praktis, tidak perlu menguras atau menyedot selamanya. Kalau saat ini mungkin habis Rp1 jutaan, karena harga drum dan pipa paralon mungkin naik,” lanjutnya.

Pemasangannya juga mudah, setengah hari sudah bisa langsung dipakai. Karena tidak perlu menunggu harus kering atau kuat kubangan yang dibuat. “Tukangnya juga senang mas, dikasih ilmu baru. Cara mempelajarinya juga mudah. Dia bisa promo ke tempat lain, bahkan bisa menjual drum bekas untuk tambahan keuntungan,” ungkap dia. (*/ida)