PEDULI UKM : PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk Cabang Johar Semarang memberikan sarasehan untuk pelayanan kredit segmen masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku usaha mikro,kecil dan menengah(UMKM) kemarin(12/3). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PEDULI UKM : PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk Cabang Johar Semarang memberikan sarasehan untuk pelayanan kredit segmen masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku usaha mikro,kecil dan menengah(UMKM) kemarin(12/3). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PEDULI UKM : PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk Cabang Johar Semarang memberikan sarasehan untuk pelayanan kredit segmen masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku usaha mikro,kecil dan menengah(UMKM) kemarin(12/3). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Mendekati pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di akhir 2015, jagad UKM mulai pontang-panting. Masih banyak industri kecil yang harus dibenahi agar siap bersaing dengan produk-produk asing yang akan ‘menyerang’ Indonesia.

Pembenahan itu bukan hanya dari segi kualitas produk dan kemasan, tapi juga manajemen dasar. Seperti cashflow. Bagaimana mengatur keuangan yang benar. Harus bisa memilah income untuk modal, kebutuhan wajib, tabungan, dan jajan. “Manajemen keuangan merupakan pondasi dasar menerjuni dunia usaha. Meski produknya bagus, kemasannya menarik, tapi kalau cashflow nya berantakan, bisa dipastikan usahanya tidak akan eksis lama,” kata External Communications BTPN dalam Pelatihan Daya Tumbuh Usaha di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Johar BTPN Mitra Usaha Rakyat.

Pelatihan gratis yang boleh diikuti semua nasabah BTPN itu mengajarkan mengenai mass market. Materi yang diberikan lebih fokus kepada mereka yang membuka usaha di ranah mikro kecil. Seperti home industry, toko kelontong, kedai makanan, dan lain sebagainya.

Di tahun 2014 lalu, Pelatihan Daya Tumbuh Usaha ini telah meluluskan 142.277 pengusaha. Naik sekitar 59 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 90.183 pengusaha. Pelatihan yang dibuka dua kali setiap bulan ini terbukti efektif mengawal keuangan pelaku usaha hingga benar-benar mandiri. Bahkan ada kasus, produsen sambal kacang yang tadinya hanya bermodal Rp 500 ribu, kini tengah berencana membuka cabang di negara tetangga.

“Pelatihan ini juga sebagai pengawalan menggunakan modal kredit. Pasalnya, banyak pengusaha yang menyelewengkan dana pinjaman bank justru digunakan untuk keperluan lain,” ungkapnya. Di 2014 lalu, BTPN mengalami pertumbuhan kredit hingga 13 persen atau Rp 52 miliar dari tahun 2013 yang hanya mencapai Rp 44 miliar. “Tahun ini, kami mematok pertumbuhan hingga 15 persen,” katanya. (amh/ric)