Awalnya Hanya Ingin Membantu Anak Rantau

333
UNIK : Mahasiswa Undip, Agung pandai membaca peluang. (RADAR SEMARANG)
UNIK : Mahasiswa Undip, Agung pandai membaca peluang. (RADAR SEMARANG)
UNIK : Mahasiswa Undip, Agung pandai membaca peluang. (RADAR SEMARANG)

Televisi hitam putih, radio zaman dulu, mobil-mobilan kuno dan beberapa kamera analog akan Anda temukan di secondhand di Banyumanik, Semarang. Tempat ini, menyediakan beberapa barang antik dan juga barang layak pakai untuk Anda yang menyukai koleksi barang-barang kuno.

Berawal dari rasa ingin menolong teman yang berasal dari luar kota, Agung, Mahasiswa Statistik Universitas Diponegoro membuka toko yang menjual dan membeli barang layak pakai. Seperti almari yang biasa dipakai di kos, alat penanak nasi dan juga barang lain yang biasa digunakan oleh anak kos.

”Kan biasanya mahasiswa yang sudah lulus tidak akan mungkin membawa barang-barangnya untuk pulang ke kampung halamannya. Di sini saya berniat sebagai perantara. Yang nantinya mungkin ada angkatan baru yang membutuhkan,” ungkap Agung.

Dari barang-barang second, teman-teman mahasiswa, kemudian koleksi Agung merambah ke barang-barang antik. Hingga kini koleksi barang antik Agung sudah mencapai ratusan. ”Kita dapat dari berbagai daerah, seringkali saya dapat dari Klaten dan daerah di luar Semarang. Di sana saya bisa dapat langsung dari pemilik pertamanya,” papar Agung.

Agung menceritakan pengalaman pertamanya saat ia mulai membuka usaha barang tangan kedua ini. Ia menyewa sebuah ruko dan mengisi dengan barang-barang miliknya sendiri. Hal ini ia lakukan karena memang belum ada yang mengetahui usaha Agung ini. Lambat laun dengan konsep titip jual, Agung mulai memiliki banyak pelanggan.

”Ya saya seneng aja, tidak ada rasa menyesal karena saya suka dengan bisnis ini. Melakukan sesuatu yang disukai itu akan menjadikan kita secara senang hati melakukannya. Sesuai passion gitu, haha,” ungkap Pria asal Klaten itu.

Saat ini Agung sedang menyelesaikan skripsi yang sempat tertunda. Usaha yang dirintisnya diakui menyita banyak waktu sehingga ia harus rela menunda mengerjakan syarat kelulusan itu.

”Ya, semua kan ada konsekuensinya. Saya memilih merintis usaha ini dengan konsekuensi menunda skripsi. Lakukan apa yang membuatmu merasa nyaman saat melakukannya. Dan untuk kuliah, target saya Juli ini saya lulus,” ucap Agung. (mg23/zal/ce1)