KEHILANGAN SITI: Sugiran dan Surati, orang tua Siti Lestari, saat ditemui di rumahnya Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak Kota, tadi malam. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
KEHILANGAN SITI: Sugiran dan Surati, orang tua Siti Lestari, saat ditemui di rumahnya Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak Kota, tadi malam. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
KEHILANGAN SITI: Sugiran dan Surati, orang tua Siti Lestari, saat ditemui di rumahnya Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak Kota, tadi malam. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Seorang warga Demak diduga bergabung dengan jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah. Dia adalah Siti Lestari, 23, mahasiswi Fakultas Farmasi semester 10 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang dikabarkan hilang sejak tiga pekan lalu. Perempuan yang akrab dipanggil Riri atau Mame tersebut tercatat sebagai warga Dukuh Cangkring RT 2 RW 1, Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak Kota.

Putri pasangan Sugiran, 65, dan Surati, 54, ini kali terakhir pulang ke rumahnya untuk mengambil Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sepeda motor Yamaha Xeon dan kartu keluarga (KK). Namun, tidak diketahui pasti untuk apa Siti mengambil BPKB motor yang dipakai sebagai alat transportasi selama kuliah di Solo tersebut. Dimungkinkan, motor yang dipakai kuliah itu dijual untuk biaya pergi ke Suriah.

Karsum, 47, Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Mulyorejo, mengungkapkan, keponakannya tersebut sebelumnya sudah dilacak pihak keluarga ke Solo. Bahkan, tiga hari tiga malam menginap di Solo untuk mencari Siti. Setelah diubek-ubek, keluarga baru menemukan kos-kosan terakhir yang ditempati Siti bersama Moh Badrun Anggi Pratomo, yang diketahui sebagai suami Siti.

Soal pernikahan perempuan kelahiran Demak, 15 Februari 1992 itu, pihak keluarga sendiri tidak tahu-menahu. Sebab, berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Siti termasuk istri Badrun yang ketiga. Istri Badrun yang pertama sudah dikaruniai dua anak, sedangkan istri kedua memiliki tiga anak.

”Yang jelas, hilangnya Siti berawal dari kecurigaan keluarga sekitar 6 bulan lalu. Ketika itu, Siti minta izin orang tuanya hendak pindah kos-kosan. Namun orang tuanya tidak mengizinkan, karena kos yang ditempati termasuk dekat dengan Kampus UMS tempatnya kuliah. Dalam perkembangannya, Siti tidak terpantau karena sudah berpindah-pindah kos,” kata Karsum saat ditemui Radar Semarang di rumahnya tadi malam.

Dia menuturkan, anak keempat dari lima bersaudara tersebut terakhir pulang ke rumahnya di Desa Mulyorejo mengambil BPKB motor. Saat pulang, orang tua Siti, yakni Sugiran dan Surati sedang di Kalimantan Tengah. Ortu Siti berjualan pakaian di Pasar Nanggabulih, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalteng. Tiga minggu lalu, ibunya pulang ke Demak dan hendak kulakan barang pakaian jadi ke Pasar Tanah Abang, Jakarta.

”Ibunya waktu itu mencoba menghubungi Siti diminta untuk pulang ke Demak. Namun handphone (HP) milik Siti sudah off. PIN BlackBerry Siti pun sudah tidak bisa dilacak. Keluarga tambah penasaran. Sebab, setelah itu pakaian Siti dan buku-buku kuliah miliknya dikirimkan ke rumah di Mulyorejo lewat paket pos,” jelasnya.

Akhirnya, pihak keluarga pergi ke Solo untuk melacak Siti. Kos terakhir yang dijadikan tempat tinggal ditemukan berada di tepi sawah, agak sepi dan jauh dari permukiman penduduk. ”Pihak keluarga sebelumnya sudah lapor ke Poltabes Solo terkait hilangnya Siti ini,” ujar Karsum.

Keluarga juga sempat melacak ke kampus Farmasi UMS tempat Siti menimba ilmu. Informasi yang diterima, Siti sudah tiga bulan tidak konsultasi skripsi yang telah disusunnya. Menurutnya, teman-teman Siti turut melacak keberadaannya. Namun tidak ditemukan juga.

”Siti kalau di komunitas pengajian pakai cadar. Sedangkan kalau di kampus atau pulang ke rumah tampil biasa. Karena itu, keluarga tambah curiga terkait hilangnya Siti tersebut. Kita terus mengikuti pemberitaan di televisi soal hilangnya WNI di Turki beberapa hari terakhir ini. Kita belum tahu apakah Siti dalam rombongan itu atau tidak. Kita berharap, segera ditemukan,” katanya.

Sugiran, ayah Siti menambahkan, sebelum diketahui pergi entah ke mana tersebut, pihak keluarga secara rutin mengirimi uang kepada Siti melalui rekening. Terakhir, Siti minta kiriman uang pada 22 Januari 2015 lalu.

”Waktu itu, saya kirim uang Rp 3,5 juta. Sebanyak Rp 2,5 juta untuk iuran semesteran, dan sisanya untuk kebutuhan yang lain,” jelas Sugiran.

Pada 16 Februari 2015, Siti sudah tidak bisa dihubungi. ”Baru pada 21 Februari lalu, istri saya dan saudara yang lain melacak ke Solo,” katanya.

Menurutnya, putrinya tersebut izin pindah kos pada Agustus 2014 silam. Namun sebagai orang tua, Sugiran tidak membolehkannya. ”Saya tidak curiga saat izin pindah kos itu. Ternyata sekarang tidak ada. Kalau dilihat dari karakter anaknya itu orangnya manut perintah orang tua. Sopan santunnya juga bagus. Kepada orang yang lebih tua pakai bahasa yang baik,” ujarnya.

Ibunda Siti, Surati berharap, anaknya tersebut segera ditemukan dan mau kembali lagi ke Demak. ”Saya tidak tahu, apakah dia sudah nikah atau belum,” katanya sembari berharap putrinya kembali.

Siti sendiri lahir dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU). Namun sejak kuliah di UMS Solo dan bergabung dalam kegiatan bersama teman-temannya, lambat laun ia mulai melupakan keluarganya. Apalagi setelah diketahui Siti menjadi istri ketiga Moh Badrun Anggi Pratomo. (hib/aro/ce1)