Stres, AKP Hadi Menolak Diperiksa

157
AKP Hadi. (DOK/RADAR SEMARANG)
AKP Hadi. (DOK/RADAR SEMARANG)
AKP Hadi. (DOK/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Setelah kabur selama 24 hari, atau sejak Senin (16/2) lalu, mantan Wakapolsek Gunungpati AKP Hadi yang ditetapkan buron akhirnya menyerahkan diri di Mapolrestabes Semarang, Rabu (11/3) sekitar pukul 22.15. Perwira polisi yang mengamuk di Karaoke Cafe & Resto Kumala Asri dan Mapolsek Gunungpati Semarang, serta nyaris menggorok leher Kapolsek Gunungpati Kompol Ahmadi itu menyerahkan diri ditemani anak, istri, dan menantunya.

”Iya, tadi malam (kemarin) sekitar pukul 22.15 (AKP Hadi menyerahkan diri) diantar anak istri dan menantunya. Menantunya juga anggota polisi (anggota Sabhara Polrestabes Semarang, Red),” ungkap Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono ditemui Radar Semarang di Mapolrestabes Semarang, Kamis (12/3).

AKP Hadi langsung menuju ke ruang Kasi Propam Polrestabes Semarang. ”Berdasarkan pengakuannya, dia menyerahkan diri karena malu sama keluarga, atasan, teman-teman seangkatan dan pimpinannya. Hal itu memengaruhi hingga dia menjadi takut,” terang Djihartono.

Selama dalam pelariannya, lanjut kapolrestabes, AKP Hadi tidak kabur ke luar kota, melainkan masih di Kota Semarang. ”Tapi dia berpindah-pindah tempat,” katanya.

Terhitung sejak Jumat (6/2) lalu, AKP Hadi telah kabur selama 24 hari. Namun berdasarkan surat penetapan daftar pencarian orang (DPO) yang ditandatangani Kapolrestabes Semarang sejak Jumat (27/2), AKP Hadi terhitung 17 hari tidak menjalankan tugas sebagai anggota Polri. ”Belum desersi, ia tidak masuk tugas selama 17 hari,” terang Djihartono.

Pihaknya mengaku telah melakukan koordinasi dengan Bidang Propam Polda Jateng. Kamis (12/3) sekitar pukul 10.00, telah dijemput oleh petugas dari Propam Polda Jateng untuk proses lebih lanjut. ”Saat ini ditangani oleh Propam,” katanya.

Atas insiden yang mencoreng korps kepolisian tersebut, AKP Hadi belum menyampaikan permintaan maaf. ”Kepada saya secara pribadi belum (meminta maaf). Atau barangkali permintaan maaf sudah disampaikan melalui pejabat lain, saya tidak tahu. Yang jelas belum sampai ke saya,” ujarnya.

Mengenai proses hukum, pihaknya telah menyerahkan kepada pihak Propam Polda Jateng. ”Proses pelanggaran disiplin di intern kepolisian dan proses pidana bisa berjalan berbarengan. Untuk pidananya nanti ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum. Sama seperti proses hukum pidana untuk masyarakat biasa,” terangnya.

Kabid Propam Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Supriyatna mengatakan, AKP Hadi masih diperiksa secara intensif. Namun pemeriksaan belum optimal karena kondisi AKP Hadi masil labil. Perwira itu diperiksa di ruang Sub Bidang Pengamanan Internal Bidang Propam Polda Jateng. ”Belum bisa bertanya banyak karena kondisi (psikisnya) masih labil. Kalau ditanya ngelantur malah bikin emosi,” katanya.

Bahkan AKP Hadi sempat menolak diperiksa oleh penyidik Propam. Pasalnya, para penyidik pangkatnya lebih rendah. Sehingga proses pemeriksaan berlangsung alot. Ia meminta diperiksa di Polrestasbes Semarang. Namun karena deretan rapor merah AKP Hadi diketahui cukup banyak, permintaan tersebut tidak dikabulkan.
”Tadinya tidak mau diproses di Polda, tapi karena pertimbangan dia sering melakukan pelanggaran, tetap diproses di Polda,” kata Hendra.

Akan Dites Urine
Pihak penyidik Propam Polda Jateng berencana akan melakukan tes urine dan mendatangkan psikolog memeriksaan perwira tersebut. Hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan lain seperti pengaruh narkoba dan kondisi kejiwaan AKP Hadi.

Dijelaskan Hendra, selama dalam pelariannya, pria berusia 52 tahun itu memiliki berat badan 75 kg, tinggi 168 sentimeter, muka oval, berkumis tebal, dan berambut ikal itu berpindah-pindah tempat ke sejumlah rumah temannya. Bahkan ia sering memantau perkembangan pemberitaan di koran dan media lain tentang dirinya.

AKP Hadi sengaja menyerahkan diri karena tertekan dan ketakutan, sebelum 30 hari tidak masuk tugas. Sebab, jika 30 hari tidak masuk tugas, ia secara otomatis berstatus sebagai desersi dan langsung bisa dikenai sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).

Lebih lanjut dikatakan Hendra, pihaknya akan kembali memanggil sejumlah saksi, di antaranya pemilik cafe, Hartono dan Kapolsek Gunungpati Kompol Ahmadi. Termasuk dua SPG yang bersama AKP Hadi saat karaoke di cafe tersebut. ”Saksi-saksi akan kami panggil kembali,” katanya.

Seperti diketahui, kasus yang membelit AKP Hadi bermula pada Senin, 16 Februari 2015 lalu, di Cafe & Resto Kumala Asri. Dalam kondisi mabuk miras, AKP Hadi membuat kerusuhan dengan menyekap dua SPG dan memukul pegawai karaoke. Hal itu berlanjut di Mapolsek Gunungpati Semarang dengan melakukan perusakan terhadap mobil Karimun milik kapolsek dan ruangan intel di Mapolsek Gunungpati. AKP Hadi juga nyaris menggorok leher Kapolsek Gunungpati Kompol Ahmadi, atasannya sendiri, menggunakan parang. (amu/aro/ce1)