PACU ADRENALIN: Awaluddin Setya Aji bersama istri dan anak mencoba rock crawling di dekat rumahnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PACU ADRENALIN: Awaluddin Setya Aji bersama istri dan anak mencoba rock crawling di dekat rumahnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PACU ADRENALIN: Awaluddin Setya Aji bersama istri dan anak mencoba rock crawling di dekat rumahnya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Hobi kadang memang membutuhkan biaya besar. Tapi karena sudah cinta, tak ragu harus merogoh kocek. Seperti para kolektor mobil jeep. Seperti apa?

PUPUT PUSPITASARI, Mungkid

Awaluddin Setya Aji sering keliling ke pelosok daerah luar Jawa hanya untuk mendapatkan keinginannya. Ini dilakukan untuk berburu mobil jeep. Sudah 11 Jeep menjadi koleksi pria kelahiran Magelang, 28 November 1975 hingga ia lebih akrab disapa Aji Jeep.

Aji pertama kali beli jeep pada 2004. Jeep CJ5 punya temannya akhirnya beralih kepemilikan dengan harga Rp 21 juta.

Setelah memiliki 1 jeep, Aji malah ketagihan. Setelah mengumpulkan uang, satu persatu, jeep-jeep yang lain ia beli. Seperti jenis American Jeep terdiri dari Wagoneer, CJ5 Mambo, CJ7, dan Wrangler. Dia juga punya jeep Gaz dari Rusia, kemudian Mercedes Benz 280GE dari Jerman yang biasa dipakai pasukan pengamanan presiden (paspampres). Selain itu, dari Jepang dia mengkoleksi Nissan Patrol 84 dan Jimni Katana. Jeep yang paling eksotis full modifikasi yang dimilikinya disebut jagoan monster rock crawling.

Aji selalu merasa tertantang ketika mengendarai rock crawling untuk menjamah bebatuan besar di sungai. Medan terjal dan sulit dilalui, dia taklukkan dengan semangatnya yang berbaur dengan panasnya matahari dan guyuran hujan.

“Paling sensasional, kalau off road sama istri naik-naik batu pakai rock crawling,” kata pria yang sering off road di Sungai Blongkeng sekitar rumahnya.

Koleksi favoritnya ini memang paling mahal. Ia rela merogoh kocek cukup dalam untuk bisa memiliki jeep senilai Rp 250 juta itu. Ketangguhan mobil kesayangannya itu mampu memacu adrenalin untuk menaklukkan medan. Menurutnya, kendala hanya pada perawatan ketika harus mengganti spare part, diapun rela pergi ke Bandung untuk mendapatkan kebutuhannya itu.

“Kepuasan penggila jeep itu, justru saat cari spare part yang sulit tapi akhirnya dapat,” aku pria yang tinggal di Dusun Ngasem, Kelurahan Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Direktur Akatirta Magelang itu berbagi cerita, asal muasal jatuh hati pada Jeep karena ayahnya yang memiliki hardtop. Keseringan bepergian menggunakan mobil gede itu, Aji mulai suka dengan jeep. Yang ada dibenaknya saat itu, jeep adalah mobil gagah yang bisa untuk menolong orang lain.

“Jeep Nissan Patrol saya, tahun 2014 lalu digunakan untuk menarik 30 truk yang terjebak banjir di Purworejo,” ungkapnya.

Selain itu, mobil jeep-nya juga pernah digunakan untuk mengangkut bantuan logistik korban bencara alam erupsi Gunung Merapi. Bahkan roda-roda mobilnya, mampu menembus medan yang sulit dijangkau oleh relawan menuju lokasi tujuan. “Akhirnya, mobil saya juga sering dipinjam untuk pawai,” tuturnya.

Pemilik Joglojeep Gunungpring ini mengaku, pengeluaran tahunan untuk pajak mobil menghabiskan tabungannya Rp 30 juta. Belum lagi jika ada kerusakan pada mobilnya, biaya servis tak terduga kerap menghantuinya.

“Tapi beruntung saya punya ahli bengkel sendiri, sehingga biayanya bisa ditekan atau lebih irit,” ucapnya.

Menurut Aji yang aktif juga di beberapa kegiatan dan organisasi kemasyarakatan itu, sensasi memakai jeep adalah membuatnya semakin percaya diri. Hobinya ini juga mendorongnya lebih semangat kerja, tentu saja memberikan efek yang positif baginya. “Setelah punya jeep, saya lebih semangat kerja. Ini juga investasi saya,” ulasnya.

Aji memiliki seabrek kegiatan, salah satunya sebagai konsultan teknik beberapa proyek asing, perusahaan besar swasta, BUMN maupun BUMD. Ia perlu memiliki hiburan untuk melebur kejenuhannya. Salah satunya mengikuti off road dengan beberapa komunitas maupun pecinta jeep dari berbagai daerah.

“Kami (pecinta jeep, red) memiliki solidaritas yang tinggi. Kalau ada yang trouble, langsung dibantuin. Saya juga nggak khawatir saat pergi sendirian tiba-tiba jeep macet, saya langsung telepon teman nanti sudah ada yang menjemput dan membantu,” papar pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik UGM Jogjakarta dan World Bank Institute itu.

Sementara itu, istri Aji, Erika Febri Prihandari yang akrab disapa Iko mendukung hobi suaminya itu. Iko mengaku senang hati bila mengikuti suaminya off road. “Saya tidak mempermasalahkan pengeluaran untuk koleksi jeep termasuk maintenenace-nya, karena saya juga merasakan asyik dengan hobi suami saya itu. Dan memang menantang,” jelas pegawai negeri sipil di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Magelang itu. (*/ton)