RUMAH CERDAS : Kepala Sekolah Rumah Cerdas Kreatif, Selamet Riyadi ketika melakukan relaksasi dengan metode hipnoterapis modern, di Rumah Cerdas Kreatif. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
RUMAH CERDAS : Kepala Sekolah Rumah Cerdas Kreatif, Selamet Riyadi ketika melakukan relaksasi dengan metode hipnoterapis modern, di Rumah Cerdas Kreatif. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
RUMAH CERDAS : Kepala Sekolah Rumah Cerdas Kreatif, Selamet Riyadi ketika melakukan relaksasi dengan metode hipnoterapis modern, di Rumah Cerdas Kreatif. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

Semula banyak orang tua yang bingung, bahkan merasa malu dan terbebani, ketika mengetahui anaknya tidak tumbuh normal sebagaimana anak kebanyakan. Namun dengan banyaknya para hipnoterapis, beban tersebut semakin berkurang. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

MESKI telah mengenyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK) selama dua tahun dan kini duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar (SD), Reza, 7, masih belum bisa membaca dengan baik. Bahkan masih ksulitan membedakan huruf B dan D.

Demikian halnya dengan yang dialami Arif, 8. Meski telah duduk di kelas 2 SD, anak berwajah polos ini, masih suka buang air besar (BAB) sembarangan. Bahkan, kerap BAB di dalam kelas di sekolahnya. Demikian pula di rumahnya pun, Arif masih melakukan hal yang sama.

Melihat kondisi anak yang demikian, para orang tua terbentur dengan ketidaktahuan cara mengatasi anaknya. Bahkan, minimnya lembaga yang bisa menampung dan memberikan solusi. Karena itulah, pegawai honorer Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Selamet Riyadi, 31, mendirikan Rumah Cerdas Kreatif di Jalan Wahid Hasyim 89, Kota Pekalongan.

“Rumah Cerdas Kreatif ini, telah membantu para orang tua untuk mendeteksi dan memberikan solusi pada anaknya yang bermasalah. Seperti kasus Arif yang suka BAB sembarangan, dalam waktu dua bulan sudah kembali normal, seperti anak-anak yang lain. Bahkan sekarang menjadi anak yang penurut, cerdas dan kreatif,” kata Selamet yang menjadi Kepala Sekolah Rumah Cerdas Kreatif, Kamis (12/3) siang kemarin.

Di Rumah Cerdas Kreatif, Selamet menggunakan metode hipnoterapis modern. Selamet membimbing pasien masuk ke dalam kondisi relaksasi yang dalam, hingga kondisi di luar dari kesadarannya, amnesia, atau bahkan trance yang diikuti dengan kondisi halusinasi dan perpecahan kepribadian. Dalam kondisi relaksasi, maka dengan mudah diberi sugesti, tentang ide-ide dan atau diajak berimajinasi, memvisualisasikan suatu kejadian yang pernah dilaluinya. “Metode ini, kami terapkan di Rumah Cerdas Kreatif,” kata Selamet yang juga Kepala Sekolah Rumah Cerdas Kreatif, Kamis (12/3) siang kemarin.

Tidak hanya itu, lewat metode hipnoterapis bisa membantu para ibu rumah tangga dari trauma akibat kekerasan dalam rumah tangganya atau peristiwa lain. “Dengan metode hipnoterapis juga, kini banyak remaja yang berkumpul di Rumah Cerdas Kreatif untuk sekadar membaca karakter dan solusinya,” tuturnya.

Rumah Cerdas Kreatif tersebut, kini difungsikan menjadi wadah komunitas para hipnoterapis. Masing-masing ahli saling berbagi ilmu untuk membantu banyak orang yang terbentur biaya.

Sebagaimana kegiatan yang dilakukan Kamis (12/3) siang kemarin, beberapa remaja dan para ibu rumah tangga mendatangi rumah cerdas kreatif untuk curhat, sekaligus mencari solusi dari masalah yang dihadapinya. Mulai masalah anak yang sulit membaca, ibu rumah tangga yang trauma terhadap masakan sayur, bahkan sampai seorang anak yang sulit ditangani karena kenakalannya.

Naela, 32, ibu dari putra Reza yang sulit membaca dan tak pernah diam saat berada di dalam kelas, justru memiliki kelebihan dalam melukis. Akhirnya para relawan yang tergabung di Rumah Cerdas Kreatif, mengarahkan Naela untuk mendorong kesukaannya anak melukis, bukan melarangnya. Metode guru mengajar pada Reza pun diubah, tidak seperti yang selama ini dilakukan secara klasikal.

“Setiap anak punya kemampuan dan daya serap yang berbeda-beda. Ada anak yang mudah menerima pelajaran di saat sambil bermain atau terhadap sesuatu yang diminatinya. Termasuk Reza yang mudah menerima pelajaran dengan cara melukis, termasuk pengenalan angka dan huruf,” ungkap Sekretaris Yayasan Rumah Cerdas Kreatif, Sarah, 24.

Diakui Sarah, membimbing anak bermasalah, tidak harus mengeluarkan banyak biaya. Tapi dengan perhatian dan diperlakukan beda dengan anak normal lainnya. “Kami hanya membantu mendeteksi sejak awal dan ikut memberikan solusi bagaimana menanganinya dengan baik, agar tumbuh menjadi lebih baik dan mandiri,” jelas Sarah. (*/ida)