BOPONG PETI : Sejumlah warga mengeluarkan peti jenazah Sutrisno dari dalam mobil ambulan di rumah duka, Selasa (10/3) malam kemarin. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)
BOPONG PETI : Sejumlah warga mengeluarkan peti jenazah Sutrisno dari dalam mobil ambulan di rumah duka, Selasa (10/3) malam kemarin. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)
BOPONG PETI : Sejumlah warga mengeluarkan peti jenazah Sutrisno dari dalam mobil ambulan di rumah duka, Selasa (10/3) malam kemarin. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)

KAJEN-Ratusan warga Dukuh Mrican Barat Desa Mrican Kecamatan Sragi berkumpul di sepanjang jalan menyambut kedatangan jenazah Sutrisno, 50, Selasa (10/3) malam kemarin.Tersangka perampokan yang tewas lantaran terlibat baku tembak dengan petugas Polsek Cikarang Utara di Kampung Ulu, Karangraharja Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat tersebut tiba di rumah duka, di Dukuh Mrican Barat RT 07 RW 02 Desa Mrican Kecamatan Sragi sekitar pukul 21.15.

Jenazah Sutrisno diantar menggunakan ambulan Rumah Sakit (RS) Kepolisian Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Selain Sutrisno, tersangka perampokan yang juga tewas ditembus peluru adalah Kusrin, 40, warga Dukuh Besaran RT 02 RW 04 Kelurahan Mulyorejo Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan.

Begitu mobil ambulan memasuki gang menuju rumah duka yang sudah lengkap dengan tratak dan sejumlah kursi, sejumlah warga yang semula di tepi jalan bergegas menghampiri. Ketika sirine ambulan tak lagi dibunyikan, riuh perbincangan para warga mulai terdengar. Beberapa di antara mereka tidak mengira, jika Sutrisno ternyata terlibat kasus perampokan dan menjadi target operasi.

Meski begitu, ada juga yang menganggap kematian Sutrisno adalah salah sasaran. Namun kebanyakan warga mengetahui informasi bahwa salah satu tetangga mereka tewas setelah terlibat baku tembak dengan polisi, Senin (9/3) pagi.

“Saya tahu di televisi. Katanya Pak Trisno itu perampok, dengar-dengar kasusnya banyak. Tembak-tembakan sama polisi. Padahal kalau di rumah orangnya baik. Pak Trisno itu sempat nyalon Kades Mrican lho mas (Pilkades 2014, red), tapi tidak jadi,” kata seorang tetangga di depan rumah Sutrisno.

“Salah sasaran kan yo bisa, wong namanya kabar itu kan bisa keliru, bisa juga benar. Tapi selayaknya ada orang meninggal itu ya diperlakukan sebagaimana mestinya. Jangan dirasani terus,” timpal warga lain.

Isak tangis pun pecah ketika jenazah di dalam peti berwarna coklat itu dikeluarkan dari dalam mobil ambulan. Sekitar 10 orang terlihat membopong peti jenazah ke dalam garasi rumah untuk diletakkan di atas kursi yang telah disiapkan. Para tetangga yang terdiri atas orang tua hingga anak-anak pun tak mampu menahan tangis. “Aku pengin weruh wajahe tapi ora kuat (Saya ingin melihat wajahnya, tapi tidak kuat, red),” teriak seorang wanita paruh baya yang kemudian lunglai dan dibopong anggota keluarga lainnya.

Kakak ipar Sutrisno, Sudono, 58, mengatakan bahwa pihak keluarga mendapatkan informasi pada Senin (9/3) sore. “Kami dapat kabar itu awalnya dari para tetangga, ada tayangan di televisi, bahwa adik saya meninggal setelah terjadi tembak menembak dengan petugas polisi Cikarang. Akhirnya saya cari kepastian, saya datangi pak kades dan Polsek Sragi,” jelasnya.

Setelah didapatkan informasi jelas, imbuhnya, ternyata benar. Pihak keluarga akhirnya berangkat ke jakarta, Senin malam sekitar pukul 22.00. “Berangkat dari sini pukul 22.00, sampai Polsek Cikarang Selasa (10/3) pukul 06.00 pagi, langsung mengurus segala macam sampai pukul 09.00. Kemudian diantar petugas ke rumah sakit. Di RS Kramatjati, mengurus jenazah, sekalian minta dimandikan dan pakai peti sampai pukul 14.30, baru pulang ke Pekalongan,” paparnya.

Sekitar pukul 21.45, warga langsung menggelar acara dan mendoakan mantan marinir yang pernah bertugas di Surabaya sekitar tahun 1990 tersebut. Jenazah, direncanakan dimakamkan Rabu (11/3) pukul 10.00 di pemakaman umum setempat.

Terkait kasus yang membelit adik iparnya, Sudono mengatakan, jika benar Sutrisno merupakan pelaku kejahatan, pihaknya sangat menyayangkan.

Menurutnya, sebulan lalu, Sutrisno sempat pulang ke Pekalongan lantaran ada saudara yang meninggal. “Sebulan lalu sempat pulang. Dia di rumah sekitar tiga hari. Dia anak terakhir dari dua bersaudara. Dari istri terakhir, dia punya satu anak, masih kecil,” kata pensiunan BUMN, Pusri (Pupuk Sri Wijaya) itu.

Sementara itu, Kapolsek Sragi, Kompol Sukirwanta mengatakan bahwa Sutrisno merupakan tersangka kasus pencurian dengan kekerasan. “Tersangka lain, Kusrin, warga Kelurahan Mulyorejo Kecamatan Kesesi langsung dimakamkan malam ini,” terangnya saat ditemui di rumah duka keluarga Sutrisno, Selasa (10/3) malam.

Informasi yang diterima pihaknya, baku tembak tersebut terjadi di Kampung Ulu, Karangraharja, Cikarang Utara, Bekasi, Senin (9/3) pagi. Dua tersangka diduga hendak melakukan perampokan di SPBU setempat. Namun ketika mengetahui kedatangan polisi, kedua pelaku yang diketahui menggunakan sepeda motor Yamaha Mio langsung menyerang menggunakan senjata rakitan semi otomatis jenis FN kaliber 9 mm.

Dua pelaku merupakan buronan terkait kasus perampokan seorang nasabah bank, Aris, di Jalan Ki Hajar Dewantara, Karangasih, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Kamis (19/2) lalu. Dalam perampokan terhadap juragan beras itu, tersangka mencegat mobil korban, Honda CRV bernopol B 1573 FJR. Menggunakan senjata api, tersangka berhasil memperdaya korban sebelum membawa kabur tas berisi uang Rp 150 juta milik korban. Kedua tersangka akhirnya tewas setelah tertembus peluru petugas. Selain senjata rakitan, dari tangan tersangka berhasil diamankan sebuah golok serta motor Mio yang digunakan saat beraksi. (hil/ida)