PEDULI UKM: Bank Jateng memberikan bunga kredit yang ringan kepada para pelaku UKM, agar mampu mengembangkan usahanya di Jawa Tengah. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PEDULI UKM: Bank Jateng memberikan bunga kredit yang ringan kepada para pelaku UKM, agar mampu mengembangkan usahanya di Jawa Tengah. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PEDULI UKM: Bank Jateng memberikan bunga kredit yang ringan kepada para pelaku UKM, agar mampu mengembangkan usahanya di Jawa Tengah. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Demi memajukan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), perbankan harus memberikan pelayanan kredit dengan menawarkan bunga yang tak memberatkan. Dengan program ini, UKM akan terbantu untuk melebarkan sayap atau meningkatkan kualitas produk mereka. Apalagi sebentar lagi mereka dihadapkan pada persaingan pasar bebas berlabel Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang siap menggilas pengusaha kacangan.

Sebagai salah satu bank pemerintah, Bank Jateng terbukti care dengan UKM. Bank Jateng telah merancang pemberdayaan masyarakat untuk membuka usaha dengan dua program kredit, yaitu Kredit Usaha Produktif dan Kredit Mikro Jateng Sejahtera.

Kredit Usaha Produktif (KUP) baru diluncurkan di Kudus, kemarin. KUP mampu mencairkan dana hingga Rp 20 juta setelah melewati digrading sesuai kemampuan UKM. Ditandai dengan warna karrtu yang diberikan kepada nasabah. Ada merah, kuning, hijau dan silver. “Warna itu menandai jumlah plafon yang diberikan berdasarkan kemampuan dan hasil usahanya. Bunganya ringan, kok. Hanya 0,8 persen,” ungkap Sekretaris Perusahaan Bank Jateng Windoyo, kemarin. Sementara itu, Kredit Mikro Jateng Sejahtera, lanjutnya, bisa mencairkan dana hingga Rp 50 juta yang bisa diangsur selama tiga tahun. “Kalau yang ini, bunganya bisa 1 persen flat,” imbuhnya.

Meski begitu, jumlah nasabah yang mengajukan kredit tidak sebanyak yang diharapkan. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang menjadikan bank sebagai momok lilitan hutang. Belum berani meminjam uang ke bank lantaran takut berbunga tinggi. “Dikira bank besar selalu memberikan bunga tinggi. Ini yang menjadi PR kami untuk menggelar sosialisasi. Bahwasanya birokrasi bank tidak berbelit. Syaratnya mudah dan fleksibel. Kami niatnya membantu. Sudah ada ukuran jumlah dana yang diberikan agar bunga pinjaman tersebut tidak mencekik,” jelasnya.

Windoyo menuturkan, di Jateng, penyaluran kredit terbesar saat ini masih di Kota Semarang. Sekitar 20 persen dari 15 wilayah yang dipayungi Bank Jateng. Disusul Surakarta dengan angka 17 persen. “Tahun ini, agaknya pertumbuhan kredit kembali menguat. Tahun lalu, Bank Jateng telah mencapai 20 persen. Di atas patokan Bank Indonesia yang hanya 18 persen,” pungkasnya. (amh/smu)