Puluhan Perlintasan Kereta Tidak Berpalang

176

KENDAL – Minimnya palang pintu pada jalan pintu perlintasan (JPL) rel kereta api (KA) disinyalir menjadi penyebab banyaknya kecelakaan di jalur rel kereta api. Terakhir, KA Argo Anggrek bernomor lokomotif CC 2061368 menabrak truk dump bernopol G 1827 CC bermuatan pasir di pintu perlintasan KA Desa Ngasinan, Kecamatan Weleri Senin (9/3) kemarin. Dalam insiden sopir truk dump Kaspan Djaspun, 58, warga Sidomukti RT 2 RW 3 Kecamatan Weleri tewas seketika akibat tergencet kabin truk yang ringsek.

Darai 54 JPL ternyata baru 10 yang sudah bepalang pintu. Kondisi itu jelas membuat warga mendesak Pemerintah Kabupaten Kendal untuk segera mengambil langkah dengan memberikan kelengkapan rambu-rambu dan alat pengaman lainnya, terutama palang pintu. “Banyak JPL rel KA yang belum berpalang pintu di Weleri ini. Padahal, JPL yang ada rata-rata adalah jalan penghubung antar desa yang yang ramai dilalui warga. Ini mestinya menjadi perhatian dari PT KAI atau pemerintah untuk memberikan rasa aman kepada warga saat melintasi JPL rel KA,” kata Tumani, 51, salah seorang warga Desa Ngasinan, Kecamatan Weleri, Selasa (10/3).

Selain minimnya palang pintu, yang menjadi masalah lain juga pemukiman-pemukiman disepanjang rel KA. Sebab hampir sebagian besar belum ada pembatas pengaman baik pagar beton atau lainnya. Hal itu menurutnya perlu untuk memberikan rasa aman kepada warga yang rumahnya berada di tepi rel kereta api. “Kalau orang dewasa mungkin sudah paham main di rel kereta api itu bahaya. Tapi kalau anak-anak yang setiap hari main keluar rumah, pagar pembatas dengan pemukiman warga ini menjadi hal penting,” imbuhnya.

Namun hal yang utama dibutuhkan warga saat ini adalah palang pintu perlintasan. Mengingat itu menyangkut nyawa dan keselamtan banyak warga. “Wong sudah ada rambu-rambu dan alat pengamanan saja kadang masih terjadi kecelakaan. Di sini, perlintasan kereta api tidak ada palang pintunya,” tambahnya.

Menurutnya, perlintasan kereta api tanpa palang pintu bukan hanya diresahkan oleh warga setempat. Sebab, penggunan jalan tersebut juga dilalui oleh warga daeri lain daerah. “Justru yang berbahaya orang yang datang dari luar daerah, karena mereka tidak tahu kondisinya. Jadi asal menyeberang saja tanpa lihat kanan-kiri ada kereta,” tambahnya.

Hal senada dikatakan Joko Sutarno, 35, warga Dempelrejo Kecamatan Ngampel. Ia mengatakan jika di desanya terdapat satu perlintasan tanpa palang pintu, yang melintang di tengah jalur menuju kantor kecamatan Ngampel. “Jalan ini adalah jalur utama menuju kantor kecamatan, sehingga sangat ramai. Tapi hingga saat ini, perlintasan kereta api masih dibiarkan tanpa palang pintu. Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan, setidaknya berkoordinasi dengan PT KAI,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kendal, Subarso mengatakan bahwa sejauh ini ada dari 10 perlintasan rel KA yang sudah berpalang pintu, baru delapan yang sudah dioperasikan. Sedangkan dua lainnya masih menunggu tenaga untuk mengoperasikan palan pintu. “Jadi masih banyak yang belum berpalang. Ada delapan yang baru kami usulkan, yakni empat di Desa Tawangsari, Ngasinan, Sidorejo dan Banyuurip. Sedangkan empat lainnya baru ditemukan, yakni di Desa Penaruban, Poncorejo, Karangmulyo, dan Sedayu Barat,” ujarnya.

Sementara ada dua titik yang sudah dipasang palang pintu yakni di Ringinarum dan Nolokerto. Namun, masih belum difungsikan karena belum ada petugas jaga. “Tapi sudah kami pasang pengumuman lewat spanduk, untuk lebih berhati-hati,” tandasnya. (bud/fth)